Rabu, 14 Oktober 2020

#HappyFamilyDay Ditengah Rapuhnya Ketahanan Keluarga


Oleh : Zahra Riyanti

Hari keluarga Nasional kembali diperingati pada 29 Juni 2020 lalu, moment dimana semua keluarga di Indonesia kembali meneguhkan komitmen keharmonisannya dan cinta kasih antar sesama anggota keluarga. Ada kesadaran yang muncul bahwa kemajuan bangsa rupanya dimulai dari unit paling kecil ini, pembangunan keluarga adalah lingkungan pertama yang dikenal anak sejak lahir. Dalam lingkungan tersebut, anak akan mempelajari berbagai hal yang akan dijadikan bekal untuk masa depannya kelak. 

Dalam berbagai regulasi yang ada Berdasarkan UU Nomor 52 tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, unit yang selama ini Anda sebut keluarga mencakup suami, istri, dan anak; suami-istri, ayah dan anaknya; ibu atau anaknya. Indonesia memperingati hal tersebut dengan Hari Keluarga Nasional atau Harganas yang jatuh setiap 29 Juni setiap tahunnya. Selain itu, Harganas juga ditujukan untuk menghidupkan kembali fungsi-fungsi yang ada dalam keluarga. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1992 dan Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 1994 menjelaskan bahwa ada delapan fungsi yang harus dijalankan oleh keluarga, di antaranya fungsi agama, sosial budaya, cinta kasih, saling melindungi, reproduksi, pendidikan, ekonomi, dan pembinaan lingkungan.

Namun sayang ada yang ganjil ditengah euphoria #HappyFamilyDay faktanya mewujudkan keluarga ideal semacam ini bukan sesuatu yang mudah. Sistem sekuler yang mengungkung masyarakat kita saat ini membuat kehidupan serba sempit. Walau telah ada landasan hukum yang kuat dalam pengaturan keluarga dan masyarakat di Indonesia tapi lihatlah Berbagai krisis terus mewarnai kehidupan ini, mulai dari krisis politik yang berujung konflik, krisis ekonomi, krisis moral dan budaya, krisis sosial, dan lain-lain. Tak sedikit pula keluarga muslim yang turut goyah bahkan terguncang, hingga angka perceraian dan trend single parent terus meningkat. Dampaknya bisa ditebak, masa depan bangsa khususnya anak yang menjadi korban utama seperti pola asuh dan proses pendidikan akan terhambat.

Kenakalan anak dan remaja, narkoba, pergaulan bebas, dan penyalahgunaan media sosial menjadi potret buram umat Islam saat ini yang tentu saja akan menjadi ancaman serius bagi nasib umat di masa depan.

 Melihat persoalan yang kian pelik ini pada akhirnya kita bertanya-tanya lantas seperti apa peran pemerintah dalam menangani sejumlah masalah keluarga tersebut, bukankah kita menginginkan agar pengaturan pemerintah dalam mengatur urusan keluarga di dalam perundang-undangan diatas dapat berjalan secara simultan dengan kenyataannya? Tapi mengapa faktanya tidak demikian, justru regulasi tersebut hanya jadi wacana dan sekedar jargon saat ini, banyak sekali angka pernikahan yang ada namun tidak semua mampu terbebas dari nestapa abrasi nilai sebuah keluarga akibat hantaman pemikiran asing yang dijajakan barat lewat program-program pemerintah terhadap keluarga.

Fakta dilapangan pemerintah Ditengah krusialnya problem keluarga malah semakin menggaungkan propagand lama yang sedang menjejali kaum wanita yakni ‘Emansipasi perempuan’ atau yang kita kenal dengan kesetaraan gender, lewat berbagai kebijakan-kebijakan struktural yang memuat narasi bahwa perempuan mandiri adalah wanita karir yang hebat secara finansial yang tidak tergantung pada ‘si pencari nafkah’ dan narasi narasi busuk lainnya.

 Partisipasi pemerintah dalam melanggengkan ide busuk feminisme ini terbukti dari keikutsertaan Indonesia ke dalam negara anggota Sdgs (Suistanble Development Goals) yang merupakan kelanjutan dari Mdgs (Millenium Development Goals) dimana telah menyusun beberapa target besarnya diantaranya target yang ke 5 yaitu promosi gender dan turunannya, program berkelanjutan ini memproyeksikan di tahun 2030 dunia sudah mencapai kesetaraan mutlak yakni planet 50:50 diamana laki-laki dan perempuan dapat mengambil porsi yang sama dalam urusan publik.

Menurut mantan deputi executive UN Women Lakshmi Puri bahwa Indonesia adalah jawara dalam hal pengarus utamaan gender di Asia-Pasifik sehingga pemerintah terus memaksimalkan peranannya dalam mempromote agenda tersebut melalui sejumlah regulasi struktural seperti yang termaktub dalam RPJMN (Rencana Jangka Panjang Menengah Nasional) 2016-2019 ada setidaknya tiga pengarusan utama dianntaranya pengarus utamaan gender, langkah strategis ini kemudian menjadi komitmen semua kementrian dan lembaga dan ditingkat daerah dalam SKPD yang ada, pengarusan ini juga berlanjut sampai pada tataran korporasi untuk menjadi agenda CSR (Corporate Social Responsibility) bahkan sampai pada tingkat bahwa yakni ormas dan komunitas masyarakat.

Pada akhirnya agenda pemerintah terncana diatas pun tidak luput dari upaya ‘pengruskan keluarga’. ide menyesatkan ini pun pada akhirnya mampu menyumbang kedalam deretan problem keluarga kini seperti angka perceraian dan KDRT semakin melompat lompat rasionya adalah hal yang tidak terlepas dari upaya perempuan yang menuntut disamakannya hak dengan kaum laki-laki membuat banyak para suami yang memutuskan untuk mengkahiri komitmen pernikahannya atau mungkin dapat memicu kekerasan fisik akibat tekanan emosi, pada akhirnya pernikahan ambruk anak-anak menjadi tak terurus. 

Dengan agenda yang sistemik yang melibatkan korporasi ini kita bisa melihat banyak sekali kaum perempuan bertambah silau dengan urusan publik ketimbang domestik, banyak para ibu yang terjun ke kancah bisnis yang melibatkan segala daya dan potensi yang dimilikinya, anak-anak ditinggalkan dirumah bersama ayahnya atau baby sitter dan tontonan yang sangat tidak mendidik saat ini, alhasil banyak anak-anak yang coba-coba untuk meniru kehidupan selebritas dikehidupan nyatanya karena para ibu tidak ada disamping untuk memonitoring, belum lagi terjun bebasnya kaum perempuan membuat para lelaki kehilangan peranannya sebagai kepala keluarga, kue pekerjaan pun setidaknya 75% telah direbutnya akhirnya tak terelakkan lagi KDRT da perceraian semakin banyak terjadi membuat masalah kian runyam dan menjelimet.

Padahal bila kita tengok Secara sosial, keluarga adalah ikatan terkuat yang berfungsi sebagai pranata awal pendidikan primer, ayah dan ibu sebagai sumber pengajaran pertama, sekaligus tempat membangun dan mengembangkan interaksi harmonis untuk meraih ketenangan dan ketentraman hidup satu sama lain.

Secara politis dan strategis, keluarga berfungsi sebagai tempat yang paling ideal untuk mencetak generasi unggulan, yakni generasi yang bertakwa, cerdas dan siap memimpin umat membangun peradaban ideal di masa depan, hingga umat Islam muncul sebagai khayru ummah.

 Dalam Islam, keluarga ibarat benteng pertahanan terakhir dalam menghadapi berbagai ancaman, tantangan, dan gangguan yang akan merusak dan menghancurkan tatanan masyarakat Islam yang bersih dan tinggi. Adapun berbagai pembagian peran dan fungsi yang ada di dalamnya, berikut berbagai implikasi pembagian hak dan kewajiban di antara anggota keluarga, dapat dipahami sebagai bentuk keadilan dan kesempurnaan yang diberikan Islam untuk merealisasikan tujuan-tujuan duniawi dan ukhrawi yang mulia ini.

Di sana, tidak ada peran dan fungsi yang satu lebih tinggi dari yang lainnya. Namun gambaran keluarga Islam ini hanya akan terwujud jika syariat Islam dilaksanakan secara sempurna sebagai aturan hidup umat manusia, yaitu dengan tegaknya Khilafah.

Hanya Khilafah Islamiyahlah yang mampu mewujudkan ketahanan keluarga yang sebenar-benarnya, memperbaiki degradsi keluarga yang saat ini terjadi sehingga tercipta masyarakat yang beriman dan bertaqwa untuk meraih keridhoan di sisi Allah SWT.


MENYOAL UKT DIMASA PANDEMI COVID-19

 

Oleh : Zahra Riyanti


Dunia pendidikan di Indonesia kini memasuki masa pelik. Bukan saja karena masa pandemik yang tak kunjung usai. Tetapi tingkah pola pembelajaran dan proses belajar mengalami pergeseran. Pergeseran model belajar, alat belajar hingga karakter belajar. Dan pembentukan sikap anak menjadi beradab pun mengalami perubahan mendasar.


Dalam perspektif pendidikan di Indonesia sebagaimana dalam UU Sisdiknas, pembentukan konsep belajar dan karakter belajar bertumpu pada iman dan takwa. Lebih tegas dalam Undang-Undang (UU) Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 3, tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.


Di awal tujuan pendidikan tegas disebutkan agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa. Lanjut berakhlak mulia, sehat dan berilmu. Pertanyaannya sekarang, apakah dalam proses belajar mengajar di sekolah sudah mendapatkan penekanan beriman, bertakwa, berakhlak dan berilmu. Nyaris yang terjadi adalah peningkatan prestasi akademik. Entri poin dari penilaian utama dan pertama bukan di iman dan takwa.


Akhir akhir ini Berseliweran di berbagai media sosial tentang protes uang sekolah dan kuliah (SPP dan UKT) yang tetap dibayarkan full di tengah belajar daring, Seperti dengan mentrendingkan tagar #MendikbudDicariMahasiswa dan #NadiemManaMahasiswaMerana Alasannya, kondisi ekonomi yang sulit seperti saat wabah seperti sekarang, menyebabkan pendapatan masyarakat (orang tua siswa dan mahasiswa) juga terdampak. Sehingga mereka meminta agar biaya SPP dan UKT dipotong atau bahkan digratiskan. 


Sebagian orang mungkin membaca berita ini dalam pembacaan yang sederhana: ekonomi sedang sulit, makanya SPP dan UKT harus dibebaskan. Apa salahnya? 


Sebagian yang lain mungkin ada yang sudah berpikir agak meluas. Kemampuan ekonomi tiap orang tidak sama. Ada yang mampu, maka ia tetap membayar SPP dan UKT full. Lalu yang miskin digratiskan, dengan mekanisme subsidi silang dari yang mampu bayar. Saling membantu lah. Biasa saja.


Atau mungkin ada pula yang membaca dengan penuh husnuzan. Lihat-lihat dulu. Mungkin mereka belum berkomunikasi dengan pihak sekolah atau kampus untuk meminta keringanan biaya yang sebenarnya ada. Jadi, jangan termakan berita. 


Bahkan ada yang suuzan. Dasar pelit! Bayar SPP minta potongan. Mentang-mentang gaji terpotong karena covid. Apa dia tidak berpikir sama sekali tentang nasib guru yang telah mendidik putra-putrinya dengan ilmu? Berkorban untuk investasi akhirat kok itung-itungan? 


Bisa jadi begitu. Setiap orang boleh saja membacanya dengan kesan berbeda-beda. Itu soal biaya pendidikan. Belum lagi soal biaya hidup lainnya seperti kesehatan, transportasi, listrik, BBM, dll. Dan kejadian ini telah menunjukkan betapa persoalan biaya menjadi kendala besar dalam upaya meraih "kepintaran", sebelum Covid-19 dan semakin terasa "sesak" ketika ada Covid-19. 


Kita dapati ada fenomena sebagian orang tua mengalokasikan biaya sekolah atau kuliah sebagai kebutuhan tersier bahkan kuarterner. Menggeser skala kebutuhan primer menjadi: sandang-pangan-papan-life style. Saat life style telah menjadi kebutuhan (primer), jadilah anggaran berlibur menduduki posisi di atas anggaran bayar SPP. 


Tidak semua orang memang. Orang-orang miskin lainnya tetap menjadikan sandang-pangan-papan sebagai kebutuhan primer. Itu pun seringnya tidak dapat mereka penuhi secara memadai lantaran keterbatasan penghasilan. Apatah lagi untuk liburan yang butuh merogoh kantong.




Membaca kabar ini, sebenarnya kita bisa menemukan satu akar dari banyaknya cabang masalah: biaya pendidikan, kualitas dan gaji guru, kurikulum, buku-buku penunjang, sarana dan prasarana pendidikan, dll.


Pertanyaannya, apakah SDA di negeri ini kurang, sehingga tak cukup untuk menopang anggaran pendidikannya? Apakah di negeri zamrud khatulistiwa 

a ini tidak terkandung kekayaan bumi? Apakah teknologi yang kita miliki tidak efisien sehingga para ahlinya justru terbang ke luar negeri dan "mengabdi" di negara lain? 


Pertanyaan demi pertanyaan yang jawabannya jelas. Kita kaya, kita mampu. Tapi kita tidak mau. Kita tidak mau belajar dari sejarah. Kita tidak mau mengambil hikmah dan pelajaran dari bangsa-bangsa yang ada. Dan penguasa kita mengalami defisit "political will".


Ini adalah salah satu fenomena di sistem sekarang. Di satu sisi, ada segolongan orang yang salah skala prioritas dalam memenuhi kebutuhan. Ini tak lain berangkat dari pemahaman "want and need" yang tidak benar. Di sisi lain, life style yang dibangun kapitalisme sekuler turut andil dalam menciptakan perilaku mengejar prestise, hobi pamer dibanding memenuhi kebutuhan primer. 


Inilah akar persoalan yang menumbuhkan banyak persoalan cabangnya. Selama kapitalisme sekuler masih menjadi asas kehidupan dan ditaati oleh pengambil kebijakan, selama itu pula problem akan terus bermunculan. 


Jadi, yang paling besar kontribusi salahnya adalah penerapan sistem kapitalisme oleh negara. Paradigmanya yang merusak itu telah merusak paradigma masyarakat. Sehingga masyarakat salah kaprah memaknai kebutuhan dan keinginan. 


Kapitalisme juga berdosa besar dalam menciptakan kesenjangan ekonomi dan melalaikan negara dari tugasnya menjamin kebutuhan pokok rakyatnya. Terjadinya liberalisasi SDA, dimana kekayaan negara diambil alih segelintir elit sehingga negara mengalami defisit. 


Prinsip kapitalisme bukanlah spirit pelayanan, melainkan kongsi dagang. Pendidikan sebagai hak dasar rakyat dan kewajiban negara memenuhinya berubah menjadi komoditas. Dapat dinikmati oleh sesiapa yang mampu bayar. 


Kita ketahui bersama bahwa negara mengemban amanat mencerdaskan kehidupan bangsa. Hal ini termaktub dalam Preambule UUD 1945 alenia ke-IV. Nyatanya amanat konstitusi ini dengan mudahnya tersandera asas kapitalisme sekuler.

Muslimah and The world of married

 


Oleh : Zahra Riyanti


Bagi laki-laki yang ingin menyempurnakan agamanya dengan menikah, jangan tergesa-gesa menentukan pilihan. Salah-salah bukannya mendapat barokah dari pernikahnya malah sebaliknya ditimpa musibah. Untuk itulah perlu direnungkan kembali pesan Nabi saw tentang ketentuan mencari seorang calon istri. Rasulullah saw bersabda “seorang wanita yang penuh barokah dan mendapat anugrah Allah adalah yang maharnya murah, mudah menikahinya dan baik akhlaknya. Namun sebaliknya, wanita yang celaka adalah yang mahal maharnya, sulit menikahinya, dan buruk akhlaknya.”


Jelas sudah bahwa rahasia keberkahan rumah tangga terdapat pada seorang istri. Istri yang sholihah akan mendatangkan barokah kepada suaminya. Rumah tangga akan menjadi tempat menyenangkan serta menentramkan. Sehingga baiti jannati pun akan tercipta.


Selain menjadi istri yang solihah dituntut pula ketika dia dikaruniai anak menjadi ibu yang solihah karena setelah fase pernikahan berlalu maka kehidupan sebenarnya telah dimulai yakni membina dan mengayom generasi yang siap digarda terdepan membela Islam. 


Seperti yang telah dikatakan Seorang wanita akan merasa sempurna jika telah menjadi istri. Seorang istri akan merasa sempurna jika ia telah menjadi seorang ibu dan seorang ibu akan merasa lebih bahagia jika ia dapat melayani suaminya, merawat, mendidik serta melihat tumbuh kembang anaknya sendiri. Semua itu bisa dilakukan jika wanita itu menjadi ibu rumah tangga.


Oleh karenanya ada pepetah Islam mengatakan : 

“Seorang anak yang rusak masih bisa menjadi baik asal ia pernah mendapatkan pengasuhan seorang ibu yang baik.


Sebaliknya, seorang ibu yang rusak akhlaknya, atau memeiliki karakter yang buruk hanya akan melahirkan generasi yang rusak pula akhlaknya. Itulah mengapa yang dihancurkan pertama kali oleh orang-orang kafir adalah wanita.”


Ucapan diatas dilontarkan oleh Muhammad Quthb, dalam sebuah ceramahnya puluhan tahun silam. Muhammad Quthb adalah ulama Mesir, beliau pernah juga menuturkan : 


“Dalam Islam, wanita bukanlah sekadar sarana untuk melahirkan, mengasuh, dan menyusui. Kalau hanya sekadar begitu, Islam tidak perlu bersusah payah mendidik, mengajar, menguatkan iman, dan menyediakan jaminan hidup, jaminan hukum dan segala soal psikologis untuk menguatkan keberadaannya. Kenapa dikatakan mendidik bukan sekadar melahirkan, membela dan menyusui yang setiap kucing dan sapi subur pun mampu melakukannya.”


 


Konsep inilah yang tidak terjadi di Negara Barat. Barat mengalami kehancuran total pada sisi masyarakatnya karena bermula dari kehancuran moral yang menimpa wanitanya. Wanita-wanita Barat hanya dikonsep untuk mendefinisikan arti kepribadian dalam pengertian yang sangat primitif dan sempit, yakni tidak lain konsep pemenuhan biologis semata.


Tak heran para perempuan ini hanya dijadikan tokoh yang tertindas dan terintimidasi dalam pentas pernikahan, fakta ini menjadi umpan yang bagus untuk membangun narasi dan wacana yang menutut penyetaraan kesempatan dan gender sehingga tren yang menarik, endingnya perceraian, perselingkuhan dan KDRT menjadi pemandangan yang memilukan.


Oleh karena itu dalam islam mendidik anak itu bukanlah perkara yang mudah, tetapi membutuhkan ilmu dan cara yang baik. Maka dari itu, dalam mendidik anak sangat membutuhkan kesabaran dan kecerdikan. Ibu membutuhkan kesabaran yang luar biasa untuk mencetak generasi rabbani. Ibulah yang biasanya dan seharusnya menjadi orang pertama yang menjadi teladan bagi anaknya. Ibu adalah sosok pertama yang dilihat, didengar ucapannya, dan disentuh oleh anaknya. Pada umumnya, awal-awal perkembangan seorang anak berada di samping ibunya.


 Pendidikan yang sangat berpengaruh pada kehidupan seorang anak adalah pendidikan yang diterapkan orang tuanya sejak dini. Apapun yang dilakukan ibu akan sangat mempengaruhi pembentukan karakter anak. Di samping itu, kerjasama antara seorang ayah dan ibu haruslah ada dalam mendidik anak karena sosok seorang ayah juga berpengaruh pada pendidikan anak.


Beberapa hal yang perlu dilakukan orang tua dalam mendidik anak antara lain: menanamkan ajaran tauhid atau akidah Islam yang lurus sejak kecil berikut tsaqofah-tsaqofah Islam mengajar anak agar berahlakul karimah, mendidik agar berbakti kepada orang tuanya, mengajarkan apa saja yang diperintahkan dan dilarang oleh Allah, menanamkan rasa cinta kepada Rasulullah saw, keluarga Rasulullah, Al-Quran, dan As-Sunnah, dan lain sebagainya. Jika kedua orang tua menginginkan kemuliaan anak-anaknya, hendaknya keduanya bersungguh-sungguh dalam mendidik anak-anaknya dengan pendidikan islami dan mengajarkan Al-Quran dan As-Sunnah.


Anak adalah aset yang menguntungkan bagi orangtuanya di akhirat jika di dunia dia menjadi anak yang shalih/shalihah.Termasuk sebab diangkatnya derajat kedua orang tua adalah anak shalih yang mendoakan keduanya. Rasulullah saw bersabda, “Jika anak adam mati, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakannya,” (HR Muslim). 


So jadilah muslimah yang benar-benar berislam kaffah berilmu yang luas sebelum melangkahkan kaki ke gerbang pernikahan yang didalamnya ada segudang tanggung jawab dan amanah yang besar, yang amanah itu bakal kita pertanggungjawabkan dihadapan Allah kelak.

HAGIA SHOPIA KEMBALI MENABUH LONCENG KEBANGKITAN ISLAM



Oleh : Zahra Riyanti 

Dunia dibuat heboh setelah munculnya berita tentang keputusan pemerintah Turki melalui Presiden R.T Erdogan untuk mengembalikan fungsi bangunan bersejarah Hagia Sophia sebagai masjid.


Kebijakan ini menjadi perbincangan hangat di social media bahkan headline surat kabar di berbagai negara.

Berbagai reaksi pun bermunculan, bagi umat muslim yang memahami secara utuh sejarah Hagia Sophia yang merupakan bagian penting dari perjalanan peradaban Islam, tentu menyambut dengan rasa syukur dan bahagia karna kembalinya Hagia Sophia kepemiliknya yang sebenarnya, yaitu Umat Islam.


Hagia sophia merupakan salah satu bagian dari Situs Warisan Dunia UNESCO, memiliki sejarah panjang sejak dibangun pertama kali pada abad ke-6. Mengutip dari Goturkeytourism.com, bangunan tersebut kerap menarik perhatian jutaan wisatawan dengan keindahannya. 


Bangunan ini terletak di Istanbul, ibu kota Turki. Secara kasat mata, bangunan ini seakan-akan mendominasi langit Istanbul. Hagia Sophia sudah mengalami renovasi dan perluasan beberapa kali selama berabad-abad ini. Salah satu keunikannya adalah perpaduan mosaik khas era Bizantium dan kaligrafi dari masa Kesultanan Ottoman. 


Mulanya, Hagia Sophia dibangun sebagai gereja Church of Holy Spirit atas perintah Kaisar Bizantium Justinian I pada abad ke-6. Beberapa pilar penyangga dalam bangunan tersebut diambil dari Ephesus dan Kuil Artemis. Hagia Sophia juga merupakan salah satu dari katedral terbesar di dunia yang memiliki makna khusus bagi komunitas Ortodoks. 


Pada masa penaklukan Ottoman di Istanbul pada 1453, Hagia Sophia berubah fungsi menjadi masjid. Bangunan dipercantik dengan arsitektur yang menampilkan elemen khas Kesultanan Ottoman. Beberapa elemen seperti mihrab dan mimbar, tempat para ustad berceramah, ditambahkan. Bahkan, sebuah perpustakaan juga dibangun di dalamnya. 


Pada 1935, Hagia Sophia diubah menjadi sebuah museum. Meski begitu, dekorasi asli dari mosaik bunga dan geometris dari abad ke-7 masih bertahan. 


Lantas bagaimana reaksi pemimpin dunia atas keputusan tersebut?

Tentu saja ini menjadi pukulan telak bagi mereka, sehingga banyak yang mengkritik bahkan mencekam Erdogan atas kebijakannya tersebut.


Erdogan tentu saja sudah memiliki kalkulasi politik tersendiri atas kebijakannya itu, bahwa hal tersebut akan menimbulkan reaksi negatif dari Eropa bahkan Amerika.


Namun Erdogan tidak peduli, dia menganggap bahwa keputusan ini adalah benar, karna Hagia Sophia memang milik Umat Islam, yang di tinggalkan Sultan Muhammad Al-Fatih sebagai wakaf setelah di beli dengan menggunakan uang pribadinya. Justru merubah Masjid Hagia Sophia menjadi museum oleh rezim Kemal Attaturk melalui dekrit kabinetnya pada tahun 1934 adalah suatu tindakan Ilegal.


Pengembalian fungsi Hagia Sophia menjadi masjid ini telah memperlihatkan betapa Barat dan sekutunya begitu benci dan merasa terusik ketika Islam mulai kembali menapaki jalan menuju kebangkitannya.

Saat ini mungkin hanya baru di mulai dengan satu bangunan bersejarah, mereka sudah begitu reaktif apatah lagi dengan bangunan bangunan yang lain seperti taj mahal di India, masjid Cordoba di Spanyol. dll


Maka, bisa di bayangkan bagaimana reaksi mereka jika Umat Muslim mulai menapaki jalan kebangkitannya dengan gagasan politik untuk menghadirkan suatu institusi politik Islam yaitu Khilafah Islamiyyah yang menaungi Umat Muslim di seluruh dunia.


Tentu mereka akan lebih reaktif dari hanya sekedar kecaman, karna mereka paham betul jika Islam bangkit dengan Institusi politiknya, maka dominasi mereka di dunia akan terancam bahkan hancur, terlebih dalam bidang ekonomi kapitalis dan agenda kolonialisme-nya.


Oleh karenanya, Umat Muslim jangan sampai begitu larut dalam euforia kemenangan atas kembalinya Hagia Sophia kepelukan umat.

Sehingga esensi dari tujuan utama perjuangan dengan kembali menghadirkan Institusi Politik Khilafah Islamiyyah di tengah-tengah umat menjadi buyar.


Sebab, membebaskan Umat Islam dari belenggu kapitalisme dan kolonialisme barat hanyalah bisa dengan menghadirkan Institusi Politik Islam itu sendiri yang lahir dari kemuliaan Syariah Islam sehingga Khilafah Islam yang gemilang itu dapat kembali bersinar menerangi dunia yang gelap saat ini. Wallahu 'alam

Senin, 13 Juli 2020

ISLAM, SAINS DAN TSAQOFAH

Oleh : Zahra Riyanti

Sains? Siapa yang tak kenal sains, semua orang pasti tahu tentang sains bahkan telah berinteraksi sepenuhnya, sains menurut KBBI Online ialah ilmu pengetahuan sistematis tentang alam dan dunia fisik. Sementara menurut Syaikh taqqiyudin An-Nabhani sains (‘ulûm), sebagai pengetahuan yang tidak dihasilkan berdasarkan akidah dan pandangan hidup tertentu, karena itu pengetahuan ini bersifat universal. Berbeda dengan Tsaqofah adalah yang merupakan  ilmu pengetahuan yang bersumber dari akidah /pandangan hidup tertentu dan tidak bersifat universal dan spesifik.

Sains, contohnya seperti matematika, fisika, kimia, teknik elektro, sipil, mesin, termasuk navigasi, dan lain-lain adalah sederet pengetahuan yang bersifat universal. Pengetahuan ini tidak lahir dan dibangun berdasarkan akidah dan pandangan hidup tertentu. Sains seperti ini bisa dipelajari dari siapapun, baik Muslim maupun non-Muslim, dan bisa diajarkan kapanpun kepada umat Islam. Adapun dengan tsaqâfah, seperti filsafat, agama, sosiologi, antropologi, psikologi, ilmu politik, tata negara, dan lain-lain, adalah bagian dari tsaqâfah yang lahir dan dibangun berdasarkan akidah dan pandangan hidup tertentu. Oleh karnanya ilmu ini tidak dibolehkan untuk diadopsi, diajarkan dan disebarluaskan bagi seorang Muslim bila asasnya tidak dibangun diatas pondasi akidah islam, karna bisa saja hal ini termasuk kedalam pandangan hidup tertentu atau disebut dengan (Hadharah).

Kita bisa memetik ibrah dari sejarah kekhilafahan utsmani yang pada saat itu sangat tertinggal dalam dunia sains dan teknologi, hal ini sangat berpengaruh pada sifah hidup masyarakatnya yang mengalami kemerosotan berpikir yang amat sangat yang juga membuat negaranya mengalami kemerosotan yang sama. Hal ini tidak dapat dinafikan pasalnya para ulama muslim pada masa itu belum melakukan perumusan sains yang tepat, akurat dan rinci akibatnya kebingungan yang luar biasa menimpa tubuh umat ini. seperti contoh Ibnu Khaldun ulama asal Tunisia ini, dalam Magnum Opus-nya, baru memilah pengetahuan ini menjadi dua: pertama, natural (alami) yang dihasilkan oleh pemikiran manusia. Kedua, penukilan yang diambil dari orang yang membuatnya. Pengetahuan yang pertama, menurutnya, seperti filsafat. Sedangkan yang kedua, seperti ilmu-ilmu syariah, yang bersumber dari al-Kitab, as-Sunnah dan pengetahuan apa saja yang terkait, seperti bahasa Arab, tafsir, fiqih, dan sebagainya (Ibn Khaldun, Muqaddimah, Dar al-Jîl, Beirut, t.t., hal. 482-483).

Namun kategorisasi yang dibuat Ibnu Khaldun sebagai bapak sosiolog menganai filsafat  ini  terbilang kabur pasalnya filsafat termasuk bagian dari pandangan hidup tertentu, seperti filsafat Yunani, Persia, dan India yang memuat sejumlah ajaran dewa dewi yang tentunya bertentangan dengan konsep ketuhanan dalam Islam. dampaknya pada abad abad setelah lemahnya politik pendidikan Khilafah di abad 18, para pelajar Muslim mulai mengalami kedangkalan berpikir yang tak terkira dalam sejarah kejayaannya akibatnya telah mempelajari ilmu-ilmu tersebut.

Inilah yang menjadi tantangan ulama, mujtahid dan pemikir kontemporer, seperti al-‘Allamah Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani, untuk merumuskan standar dan kategori yang bisa digunakan untuk memfilter jenis pengetahuan yang dihadapi oleh umat Islam. Maka, rumusan yang dirumuskan di atas merupakan rumusan baru, dan orisinil, yang bisa digunakan oleh siapapun untuk memfilter jenis pengetahuan yang dihadapi oleh umat Islam, sekaligus membersihkan pengetahuan non-Islam dari tubuh mereka.

Hanya saja, semuanya itu tidak bisa diwujudkan dengan baik, tepat standar, patokan dan filter dan akurat, jika negara khilafah tidak mempunyai standar, patokan dan filter yang baku tentang keduanya. Karena itu, di sinilah, pentingnya kita berjuang mengembalikan wadah yang islami yang mampu menopang eksisnya sains dan tsaqofah berdasrkan kaidah dan faedahnya untuk kehidupan.

Senin, 04 November 2019

ILUSI MERDEKA

Oleh : Zahra riyanti 

Lonceng merdeka telah berdentang
Bermuara suka di dada dada ‘pahlawan’
Menggetarkan tangan para penjajah
Anak-anak ikut menderma tawa juga bahagia
Bahkan membakar gelora semangat pemuda
Gempita ‘Merdeka’ menerobos lajunya angin dan menembus segala jarak
Ulama pun terdiam bisu dengan takbir dalam jiwa
Hampa berbalut luka lembar-lembar putih telah bersuara
‘Belenggu penjajah telah tiada
Tapi Ku Bertanya tanya sudah habiskah dukaku?

Gempulan asap itu telah punah berganti cerah
Mewarnai lagi bangsaku yang dulu kelam beganti cahaya
Matahari ‘merdeka’ telah terbit diufuk papua
Bambu runcing dan panah-panah telah terhempas
Menyambut kedatangan masa masa baru Nusantara
Ku terpaku menatap gembirannya rakyat jelata
Lepas dari tangan penjajah yang basah dengan darah
Warta dan wacana 'merdeka’ telah menghiasi media
Daku pun masih bertanya sudah habiskah  sedihku?

Kuterseok di samping lorong tak bersuara
Menatap langit hampa penuh curiga
Irama sendu penuh suram mencoba menerpa telinga
Nada tercipta sembari bekata ‘berkibarlah benderahku merah putih yang perwira’
Kuterharu sambil tertawa siapa dia yang coba menggoda
Ternyata dia aduhai sang pujangga
Menggambar sosok pusara tak bernama yang terlantar di debu senja.
berakhirkah mimpi buruk ini aku dalam tanya?

Engkau berdiri dengan gagah penuh citra
Bersama kolega engkau berbicara penuh siasat dan banyak cerita
Diatas mimbar penuh hormat dan sanjungan kata
Engkau digelar proklamator bersahaja dan berwibawa
Disanalah dinasti soekarno Hatta tercipta

Perancis beganti belanda dalam warna eropa
Atau Asia bermacan jepang dan China
Kan Terpampang jelas dalam lukisan tua bersejarah
Menjadi pelangi redup menebarkan luka
Buku-bukupunkan bersabda lestarikan tradisi juang dalam dada
Kepalan tangan pun dapat mendobrak segalanya
Menabuh kembali ingatan segar tentangmu para pendusta
Dimanakah hatimu kala aku terluka?

Dinasti itu telah dilempar ke angkasa tanpa etika
Berjasa namun tidak dibalas tanda penuh hina
Tenunan Bijak kau sulam adil namun salah kaprah
Membunuhmu di batas waktu 30 tahun berkuasa
Mereka tertawa sambil menendang jauh luka mu diluar rasa
Tersipu malu dalam jepretan foto bertebaran gentayangan dialam elektronika
Sumpah setiamu murah dinista berlumur dosa
Itukah cita cinta mu wahai paduka?

zaman berjalan bak busur panah mencari arah
dalam barisan kenangan dihias alunan biola
buyut buyutku masih bergumam tentang pancarobah
yang diusung oleh jemari martir marrtir mulia
bermandi darah dan pengorbanan mencari posisi duka
agar terus menjelma dalam memori dan nostalgia
tapi apa hendak dikata kau hujamkan sembilu hingga tak berdaya
kala 32 tahun kau sematkan huru hara dalam luka lama
kebengisanmu murah bersimbah keji  di kepala putra putri bangsa
darimulah, Phobia agama hingga obral hukum dikarya
kau tersenyum dalam wahana layar kaca melihat pembantaian merajalela
atas nama pancasila nyawa-nyawa layak sampah tak berharga
anak-anak mencari cinta kau punahkan
oh- dinasti kelam itu takkan sirna walau tak serupa

Tragedi tragedi kejam itu telah terkubur dalam kisah
Keroncong dan wayang telah mendrama
Kisah kasih di hari ini masih dalam cengkraman
Dalam rencana jahat penuh syahwat dan kepentingan
Padahal genderang reformasi telah ditabuh menandakan
Samudra jajah telah tenggelam selamanya
Namun apakah kataku mampu menipu realita?

kini jalan itu terus ada namun sepi dan tak kasat mata
embun embun lalu masih bisu dalam bahasa
aku masih syahdu dengan lantunan lantunan murahan
memberi sensasi plong kata coca cola
aku terbahak menyangkali kondisi kondisi dunia disisi era
kampanye produk menngganti jabatan peluru menembak massa
orang terbuai dengan fun food fashion yang dijajak mereka
pak pos bisa bercumbu dengan posko layanan kesehatan
hingga penguasa membina cinta dengan pengusaha
semua hilir mudik berita mengiris-iris logika
aku masih senyap dengan penuh tanya, sudah habiskah deritaku?

Kutatap pendidikanku yang kini sudah sebaya usia
Kurikulum bergonta ganti diruang para pemungut suara
Palu diketuk menidurkanku dalam bayang bayang sakit penuh lelah
Kulihat mereka berseteru melawan arus para rakyat kerdil tak berkuasa
Yang bergumam agar keadilan dan makmur bisa merata
Tapi apalah daya tangan tak bisa meraba
Dokumen-dokumen monumental disimpan bak perkakas antik yang dilindungi negara

Kulirik tragisnya ekonomiku kaku tak bergerak layak hewan melata
Menggigitku saat dunia meledekku anak rupiah
Bisnis bisnis durjana penyembah syetan jadi budaya
Dari MLM, koperasi, hingga saham bermandi bunga
Loyal dan penuh damai bahkan bangga meminum virus riba
Pejabat bersimedi dimuara gangga demi mendapat tahta
Pelajar-pelajar itupun terbius duduk dikursi semahal mereka
Harga diri tak lagi dipermak bahkan haus dan terus lapar pada harta

Disisi belakang daku menatap semrawut figur figur terindah
Mereka yang bahkan kalah dari intan emas dan mutiara
Sebagai harta berharga meski habis dollar Amerika
Tapi kini potret itu buram membutakan akal dan mata
Mereka dirayu seperti nuklir membasmi bumi menjadi nestapa
Dialah wanita, kulit dan rambutnya mudah didapat seperti bayam-bayam dipasar
Mantra kosmetik yang memudarkan pandangan bersama fashion dipajang
mau menjadi penyembah primadona gender dan feminis disinggasana
untuk iklan iklan yang terus memanjakan pandangan dalam  khayalan
aku sakit dan tak bisa mengendus lagi aroma peradaban

kini aku masih terus melangkah jauh mencari makna
yang masih menyimpan harapan cahaya indah
mengabarkanku dari lisan suci Rasul baginda
tentang mata air cinta hidup penuh barokah
yang kan terus bersemi dalam sabda mulia
menghiasi generasi dari masa ke masa
melampaui akal dan mata manusia

dan meski mata sayu layu dalam marah
hati penuh gelisah susah dan tak berbeda
makin kukencang sabuk cinta dalam perang tak berwarna
yang bersemayam dalam pikiran jiwa dan raga
ialah wahyu ilahi dalam wadah bernama mabda
yang pernah melukis dunia dengan tinta emas permata
mencatat sejarah bak bunga-bunga syurga
kafir dan beriman pun terkagum tak berdaya
itulah negeri Islam bumi yang hilang ditelan masa

“Freeport dan lingkaran mafia politisi simbol penjajahan kapitalisme di Indonesia”

Oleh : Zahra Riyanti
Lensa Freeport
Pada akhir tahun 1996 lalu, sebuah artikel yang ditulis oleh seorang penulis Lisa Pease yang dimuat dalam majalah Probe. Tulisan ini juga disimpan dalam National Archive di Washington DC. Judul tulisan tersebut adalah “JFK, Indonesia, CIA and Freeport“.Walau dominasi Freeport atas “gunung emas” di Papua telah dimulai sejak tahun 1967, namun kiprahnya di negeri ini ternyata sudah dimulai beberapa tahun sebelumnya. Dalam tulisannya yang dimuat dalam majalah Probe itu, Lisa Pease mendapatkan temuan jika Freeport Sulphur, demikian nama perusahaan itu awalnya, nyaris bangkrut berkeping-keping ketika terjadi pergantian kekuasaan di Kuba pada tahun 1959. Saat itu di Kuba, Fidel Castro berhasil menghancurkan rezim diktator Batista. Oleh Castro, seluruh perusahaan asing di negeri itu dinasionalisasikan. Freeport Sulphur yang baru saja hendak melakukan pengapalan nikel produksi perdananya dari Kuba, akhirnya terkena imbasnya  Maka terjadi ketegangan di Kuba.
Menurut Lisa, berkali-kali CEO Freeport Sulphur merencanakan upaya pembunuhan terhadap Fidel Castro, namun berkali-kali pula menemui kegagalan. Ditengah situasi yang penuh ketidakpastian, pada Agustus 1959, Forbes Wilson yang menjabat sebagai Direktur Freeport Sulphur melakukan pertemuan dengan Direktur pelaksana East Borneo Company, Jan van Gruisen. Dalam pertemuan itu Gruisen bercerita jika dirinya menemukan sebuah laporan penelitian atas Gunung Ersberg (Gunung Tembaga) di Irian Barat yang ditulis Jean Jacques Dozy di tahun 1936. Uniknya, laporan itu sebenarnya sudah dianggap tidak berguna dan tersimpan selama bertahun-tahun begitu saja di perpustakaan Belanda. Namun, Van Gruisen tertarik dengan laporan penelitian yang sudah berdebu itu dan kemudian membacanya. Dengan berapi-api, Van Gruisen bercerita kepada pemimpin Freeport Sulphur itu jika selain memaparkan tentang keindahan alamnya, Jean Jaques Dozy juga menulis tentang kekayaan alamnya yang begitu melimpah. Tidak seperti wilayah lainnya diseluruh dunia, maka kandungan biji tembaga yang ada disekujur tubuh Gunung Ersberg itu terhampar di atas permukaan tanah, jadi tidak tersembunyi di dalam tanah. Mendengar hal itu, Wilson sangat antusias dan segera melakukan perjalanan ke Irian Barat untuk mengecek kebenaran cerita itu. Di dalam benaknya, jika kisah laporan ini benar, maka perusahaannya akan bisa bangkit kembali dan selamat dari kebangkrutan yang sudah di depan mata.
Selama beberapa bulan, Forbes Wilson melakukan survey dengan seksama atas Gunung Ersberg dan juga wilayah sekitarnya. Penelitiannya ini kelak ditulisnya dalam sebuah buku berjudul “The Conquest of Cooper Mountain”. Wilson menyebut gunung tersebut sebagai harta karun terbesar, yang untuk memperolehnya tidak perlu menyelam lagi karena semua harta karun itu telah terhampar di permukaan tanah. Dari udara, tanah disekujur gunung tersebut berkilauan ditimpa sinar matahari. Wilson juga mendapatkan temuan yang  nyaris membuatnya gila. Karena selain dipenuhi bijih tembaga, gunung tersebut ternyata juga dipenuhi bijih emas dan perak Menurut Wilson, seharusnya gunung tersebut diberi nama GOLD MOUNTAIN, bukan Gunung Tembaga. Sebagai seorang pakar pertambangan, Wilson memperkirakan jika Freeport akan untung besar, hanya dalam waktu tiga tahun pasti sudah kembali modal. Pimpinan Freeport Sulphur ini pun bergerak dengan cepat.
Pada 1 Februari 1960, Freeport Sulphur meneken kerjasama dengan East Borneo Company untuk mengeksplorasi gunung tersebut. Namun lagi-lagi Freeport Sulphur mengalami kenyataan yang hampir sama dengan yang pernah dialaminya di Kuba. Perubahan eskalasi politik atas tanah Irian Barat tengah mengancam Hubungan Indonesia dan Belanda telah memanas dan Soekarno malah mulai menerjunkan pasukannya di Irian Barat. Tadinya Wilson ingin meminta bantuan kepada Presiden AS John Fitzgerald Kennedy (JFK) agar mendinginkan Irian Barat. Namun ironisnya, JFK malah sepertinya mendukung Soekarno. Kennedy mengancam Belanda, akan menghentikan bantuan Marshall Plan jika ngotot mempertahankan Irian Barat. Belanda yang saat itu memerlukan bantuan dana segar untuk membangun kembali negerinya dari puing-puing kehancuran akibat Perang Dunia II, terpaksa mengalah dan mundur dari Irian Barat. Ketika itu sepertinya Belanda tidak tahu jika Gunung Ersberg sesungguhnya mengandung banyak emas, bukan tembaga. Sebab jika saja Belanda mengetahui fakta sesungguhnya, maka nilai bantuan Marshall Plan yang diterimanya dari AS tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan nilai emas yang ada di gunung tersebut. Dampak dari sikap Belanda untuk mundur dari Irian Barat menyebabkan perjanjian kerjasama dengan East Borneo Company mentah kembali. Para pemimpin Freeport jelas marah besar. Presiden AS, John F Kennedy ditembak saat bersama istrinya di mobil kap terbuka Presiden AS, John F Kennedy ditembak saat bersama istrinya di mobil kap terbuka pada 22 November 1963. Apalagi mendengar Kennedy akan menyiapkan paket bantuan ekonomi kepada Indonesia sebesar 11 juta AS dengan melibatkan IMF dan Bank Dunia. Semua ini jelas harus dihentikan Segalanya berubah seratus delapan puluh derajat ketika Presiden Kennedy tewas ditembak pada 22 November 1963.
Banyak kalangan menyatakan penembakan Kennedy merupakan sebuah konspirasi besar menyangkut kepentingan kaum Globalis yang  hendak mempertahankan hegemoninya atas kebijakan politik di Amerika. Presiden Johnson yang  menggantikan Kennedy mengambil sikap yang bertolak belakang dengan pendahulunya.  Johnson  malah mengurangi bantuan ekonomi kepada Indonesia, kecuali kepada militernya. Presiden Sukarno pada lawatan kenegaraannya ke Amerika Serikat sedang memeriksa barisan tentara kehormatan Amerika setelah turun dari pesawat didampingi presiden AS, John F Kennedy Salah seorang tokoh di belakang keberhasilan Johnson, termasuk dalam kampanye pemilihan presiden AS tahun 1964, adalah Augustus C.Long, salah seorang anggota dewan direksi Freeport. Tokoh yang satu ini memang punya kepentingan besar atas Indonesia. Selain kaitannya dengan Freeport, Long juga memimpin Texaco, yang membawahi Caltex (patungan dengan Standard Oil of California).
Soekarno pada tahun 1961 memutuskan kebijakan baru kontrak perminyakan yang mengharuskan 60 persen labanya diserahkan kepada pemerintah Indonesia. Caltex sebagai salah satu dari tiga operator perminyakan di Indonesia jelas sangat terpukul oleh kebijakan Soekarno ini. Augustus C.Long, salah seorang anggota dewan direksi Freeport dan pemimpin Texaco, yang membawahi Caltex, ia juga chairman Presbyterian Hospital Board dan Penasehat CIA di kepresidenan AS untuk masalah luar negeri. Augustus C.Long amat marah terhadap Soekarno dan amat berkepentingan agar orang ini disingkirkan secepatnya. Mungkin suatu kebetulan yang ajaib, Augustus C. Long juga aktif di Presbysterian Hospital di New York, dimana dia pernah dua kali menjadi presidennya (1961-1962). Sudah bukan rahasia umum lagi jika tempat ini merupakan salah satu simpul pertemuan tokoh CIA.
Lisa Pease dengan cermat menelusuri riwayat kehidupan tokoh ini. Antara tahun 1964 sampai 1970, Long pensiun sementara sebagai pemimpin Texaco. Apa saja yang dilakukan orang ini dalam masa itu, yang di Indonesia dikenal sebagai “masa yang paling krusial”. Pease  mendapatkan data jika pada Maret 1965, Augustus C. Long terpilih sebagai Direktur Chemical Bank, salah satu perusahaan Rockefeller. Pada bulan Agustus 1965, Long diangkat menjadi anggota dewan penasehat intelejen kepresidenan AS untuk masalah luar negeri. Badan ini memiliki pengaruh sangat besar untuk menentukan operasi rahasia AS di negara-negara tertentu. Long diyakini salah satu tokoh yang merancang kudeta terhadap Soekarno, yang dilakukan AS dengan menggerakkan sejumlah perwira Angkatan Darat yang disebutnya sebagai Our Local Army Friend. menurut pengamat sejarawan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr Asvi Marwan Adam, Soekarno benar-benar ingin sumber daya alam Indonesia dikelola oleh anak bangsa sendiri. Asvi juga menuturkan, sebuah arsip di Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta mengungkapkan pada 15 Desember 1965 sebuah tim dipimpin oleh Chaerul Saleh di Istana Cipanas sedang membahas nasionalisasi perusahaan asing di Indonesia. Soeharto yang pro-pemodal asing, datang ke sana menumpang helikopter. Dia menyatakan kepada peserta rapat, bahwa dia dan Angkatan Darat tidak setuju rencana nasionalisasi perusahaan asing itu.
Sebelum tahun 1965, seorang taipan dari Amerika Serikat menemui Soekarno. Pengusaha itu menyatakan keinginannya berinvestasi di Papua. Namun Soekarno menolak secara halus. “Saya sepakat dan itu tawaran menarik. Tapi tidak untuk saat ini, coba tawarkan kepada generasi setelah saya,” ujar Asvi menirukan jawaban Soekarno. Soekarno berencana modal asing baru masuk Indonesia 20 tahun lagi, setelah putra-putri Indonesia siap mengelola. Dia tidak mau perusahaan luar negeri masuk, sedangkan orang Indonesia masih memiliki pengetahuan nol tentang alam mereka sendiri. Oleh karenanya sebagai persiapan, Soekarno mengirim banyak mahasiswa belajar ke negara-negara lain. Suharto, sebagai komandan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) disaat memimpin pasukan untuk memerangi G-30/S-PKI. Soekarno boleh saja membuat tembok penghalang untuk asing dan mempersiapkan calon pengelola negara. Namun Asvi menjelaskan bahwa usaha pihak luar yang bernafsu ingin mendongkel kekuasaan Soekarno, tidak kalah kuat, Setahun sebelumnya yaitu pada tahun 1964, seorang peneliti diberi akses untuk membuka dokumen penting Departemen Luar Negeri Pakistan dan menemukan surat dari duta besar Pakistan di Eropa. Dalam surat per Desember 1964, diplomat itu menyampaikan informasi rahasia dari intel Belanda yang mengatakan bahwa dalam waktu dekat, Indonesia akan beralih ke Barat. Lisa menjelaskan maksud dari informasi itu adalah akan terjadi kudeta di Indonesia oleh partai komunis. Sebab itu, angkatan darat memiliki alasan kuat untuk menamatkan Partai Komunis Indonesia (PKI), setelah itu membuat Soekarno menjadi tahanan.
Telegram rahasia dari Departemen Luar Negeri Amerika Serikat ke Perserikatan Bangsa-Bangsa pada April 1965 menyebut Freeport Sulphur sudah sepakat dengan pemerintah Indonesia untuk penambangan puncak Erstberg di Papua. Salah satu bukti sebuah telegram rahasia Cinpac 342, 21 Januari 1965, pukul 21.48, yang menyatakan ada pertemuan para penglima tinggi dan pejabat Angkatan Darat Indonesia membahas rencana darurat itu, bila Presiden Soekarno meninggal. Namun kelompok yang dipimpin Jenderal Soeharto tersebut ternyata bergerak lebih jauh dari rencana itu. Jenderal Suharto justru mendesak angkatan darat agar mengambil-alih kekuasaan tanpa menunggu Soekarno berhalangan. Mantan pejabat CIA Ralph Mc Gehee juga  pernah bersaksi bahwa semuanya itu memang benar adanya. Soeharto diberikan mandat dengan dikeluarkannya Supersemar untuk mengatasi keadan oleh presiden Sukarno Soeharto diberikan mandat dengan dikeluarkannya Supersemar untuk mengatasi keadan oleh presiden Sukarno Maka dibuatlah PKI sebagai kambing hitam sebagai tersangka pembunuhan 7 Dewan Jenderal yang pro Sukarno melalui Gerakan 30 September yang didalangi oleh PKI, atau dikenal oleh pro-Suharto sebagai “G-30/S-PKI” dan disebut juga sebagai Gestapu (Gerakan Tiga Puluh) September oleh pro-Sukarno. Setelah pecahnya peristiwa Gerakan 30 September 1965, keadaan negara Indonesia berubah total. Terjadi kudeta yang telah direncanakan dengan “memelintir dan mengubah” isi Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) 1966, yang pada akhirnya isi dari surat perintah itu disalahartikan. Dalam Supersemar, Sukarno sebenarnya hanya memberi mandat untuk mengatasi keadaan negara yang kacau-balau kepada Suharto, bukan justru menjadikannya menjadi seorang presiden. Suharto dan Tien Suharto berdiri di depan Patung 7 Jenderal di daerah Lubang Buaya yang dalam pelajaran sejarah, mereka telah “dibunuh PKI” lalu jasadnya ditemukan hanya dalam satu lubang sumur di daerah Lubang Buaya.  Dalam artikel berjudul JFK, Indonesia, CIA, and Freeport yang diterbitkan majalah Probe edisi Maret-April 1996, Lisa Pease menulis bahwa akhirnya pada awal November 1965, satu bulan setelah tragedi terbunuhnya sejumlah perwira loyalis Soekarno (yang dikenal juga sebagai 7 dewan Jenderal yang dibunuh PKI), Forbes Wilson mendapat telpon dari Ketua Dewan Direktur Freeport, Langbourne Williams, yang menanyakan, “Apakah Freeport sudah siap untuk mengekplorasi gunung emas di Irian Barat?. Forbes Wilson jelas kaget. Dengan jawaban dan sikap tegas Sukarno yang juga sudah tersebar di dalam dunia para elite-elite dan kartel-kartel pertambangan dan minyak dunia, Wilson tidak percaya mendengar pertanyaan itu. Dia berpikir Freeport masih akan sulit mendapatkan izin karena Soekarno masih berkuasa. Ketika itu Soekarno masih sah sebagai presiden Indonesia bahkan hingga 1967, lalu darimana Williams yakin gunung emas di Irian Barat akan jatuh ke tangan Freeport? Lisa Pease mendapatkan jawabannya. Para petinggi Freeport ternyata sudah mempunyai kontak dengan tokoh penting di dalam lingkaran elit Indonesia. Oleh karenanya, usaha Freeport untuk masuk ke Indonesia akan semakin mudah. Beberapa elit Indonesia yang dimaksud pada era itu diantaranya adalah Menteri Pertambangan dan Perminyakan pada saat itu Ibnu Soetowo . Namun pada saat penandatanganan kontrak dengan Freeport, juga dilakukan oleh menteri Pertambangan Indonesia selanjutnya yaitu Ir. Slamet Bratanata.
Selain itu juga ada seorang bisnisman sekaligus “makelar” untuk perusahaan-perusahaan asing yaitu Julius Tahija. Julius Tahija berperan sebagai penghubung antara Ibnu Soetowo dengan Freeport. Dalam bisnis ia menjadi pelopor dalam keterlibatan pengusaha lokal dalam perusahaan multinasional lainnya, antara lain terlibat dalam PT Faroka, PT Procter & Gambler (Inggris), PT Filma, PT Samudera Indonesia, Bank Niaga, termasuk Freeport Indonesia.Sedangkan Ibnu Soetowo sendiri sangat berpengaruh di dalam angkatan darat, karena dialah yang menutup seluruh anggaran operasional mereka. Sebagai bukti adalah dilakukannya pengesahan Undang-undang Penanaman Modal Asing (PMA) pada 1967 yaitu UU no 1/1967 tentang Penanaman Modal Asing (PMA) yang draftnya dirancang di Jenewa-Swiss yang didektekan oleh Rockefeller seorang Bilderberger dan disahkan tahun 1967. Maka, Freeport menjadi perusahaan asing pertama yang kontraknya ditandatangani Soeharto.
Freeport: Simbol Penjajahan Kapitalisme Di Indonesia
PT Freeport Indonesia kembali mengundang kontraversi. Perusahaan tambang asal AS itu ngotot untuk memperpanjang kontraknya yang akan berakhir tahun 2021. Padahal sejak hadir tahun 1967 lalu, besarnya kerugian yang ditimbulkan oleh perusahaan itu baik dari aspek ekonomi, kemanusiaan dan lingkungan sudah sangat nyata. Sayang, pemerintah yang semestinya membela kepentingan negara dan rakyat justru lebih ‘membela’ kepentingan perusahaan itu. Berdasarkan Laporan Tahunan 2014 Freeport McMoran, cadangan bijih terbukti Freeport Indonesia sebesar 2,5 miliar dengan potensi kandungan emas sebesar 800 ton dan kandungan tembaga sebanyak 13,2 juta ton. Besarnya cadangan itu menempatkan Grasberg sebagai lokasi dengan cadangan emas terbesar dunia dan cadangan tembaga yang masuk dalam 10 besar dunia. Pada tahun 2014, perusahaan itu menghasilkan 288 ribu ton tembaga dan 32 ton emas dari rata-rata produksi bijih (ore) perhari sebanyak 120,500 ton. Jika produksi itu diasumsikan tetap, perusahaan itu butuh 57 tahun lagi atau hingga tahun 2072 untuk menghabiskan cadangan terbukti saat ini. Namun, Freeport McMoran, dalam presentasinya k epada para investor mengklaim, memang perusahaan itu memiliki bahan mineral (material mineralized) yang cukup besar, tetapi belum dikonversi menjadi cadangan terbukti. Artinya, cadangan mineral terbukti yang dikuasai perusahaan itu berpotensi untuk terus bertambah.
Sayang, besarnya cadangan dan pendapatan perusahaan itu tidak banyak dinikmati oleh penduduk Indonesia. Selain pajak, royalti yang dibayarkan perusahaan itu kepada pemerintah sangat kecil. Pada tahun 2014, nilainya hanya Rp 1,5 triliun atau 3,3% dari total pendapatan-nya yang mencapai Rp 47 triliun. Cadangan yang melimpah dan biaya yang murah tersebut menjadi alasan mengapa Freeport sangat beram-bisi untuk terus memperpanjang kontraknya.

Biang Kerok
Kerugian yang ditimbulkan oleh kehadiran Freeport sejatinya bukan hanya masalah ekonomi, namun juga aspek kemanusian dan lingkungan. Suku Amugme dan Kamoro yang merupakan penduduk asli Papua yang dulunya mendiami lokasi pertambangan Freeport telah merasakan bagaimana getirnya hidup mereka sejak adanya Freeport. 1 Pada tahun 1977, misalnya, ketika suku Amungme meledakkan pipa tambang akibat kemarahan mereka atas Freeport, militer dikerahkan untuk menumpas mereka sehingga menyebabkan 900 warga tewas. Pada tahun 1995, pemerintah menggusur 2.000 penduduk yang telah tinggal turun-temurun di sekitar lokasi tambang dan direlokasi ke lokasi lain dengan fasilitas pemukiman yang memprihatikan. Penduduk juga kerap diintimidasi bahkan disiksa hingga tewas dengan alasan mereka terlibat dalam Organisasi Pengacau Keamanan (OPM). 2 Sebagian kalangan bahkan menilai berkembangnya OPM merupakan ekses dari ketidakadilan yang dirasakan masyarakat Papua yang hidup miskin, sementara kekayaan alam mereka justru dinikmati oleh Freeport dan segelintir elit di Jakarta.

Demi menjaga keamanan investasinya, Freeport menetapkan standar keamanan yang cukup ketat. Meski tidak pernah mengakui secara terbuka, berbagai temuan di lapangan menunjukan bahwa Freeport telah membayar aparat militer Indonesia untuk mengamankan perusahaan itu. Sejumlah mantan militer, polisi serta intelijen dari Indonesia dan AS dipekerjakan untuk menjaga keamanan perusahaan itu.3

Freeport juga dikenal sebagai perusahaan yang tidak ramah lingkungan. Limbah tailing yang merupakan residu pertambangan perusahaan itu dibuang tanpa melalui pengolahan yang sesuai standar. Dampaknya, sumberdaya alam di sekitar wilayah pertambangan seperti Sungai Ajkwa, muara, hutan mangrove dan hutan tropis di sekitarnya ikut tercemar. Kadar pencemaran lingkungan yang tinggi tidak hanya mengganggu kesehatan penduduk, namun juga membatasi mereka untuk memanfaatkan sumberdaya alam itu.4 Ironis memang, di satu sisi Freeport mampu mengirim miliaran dolar ke AS, sementara penduduk Indonesia, khususnya penduduk Papua, sebagian besar hidup dalam kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan.

Pelanggar Aturan
Freeport juga kerap membangkang terhadap regulasi pemerintah di sektor pertambangan. UU No. 4/2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara telah mengatur pembatasan luas lahan pertambangan, kewajiban divestasi saham hingga keharusan melakukan pemurnian produk dalam negeri. Meski telah diundangkan sejak tahun 2009, implementasi UU itu hingga saat ini belum bisa diterapkan secara utuh. Freeport bahkan berpandangan UU itu tidak berlaku untuk dirinya yang izinnya dalam bentuk Kontrak Karya (KK). Bahkan berdasarkan surat teguran Dirjen Minerba kepada Freeport terungkap bahwa meskipun pemerintah dan Freeport telah membahas amandemen naskah KK sejak Oktober 2014 sampai Maret 2015, Freport baru menyetujui 2 pasal secara utuh dari 20 pasal yang dibahas.5

Meskipun demikian, pemerintah tetap bersikap lunak kepada Freeport. Sejumlah peraturan turunan dari UU Minerba, baik dalam bentuk Peraturan pemerintah maupun Peraturan Menteri (Permen) berkali-kali direvesi hanya untuk mengakomodasi kepentingan Freeport dan perusahaan pertambangan raksasa lainnya seperti Newmont. Pada Permen ESDM No.7/2012 tentang Peningkatan Nilai Tambah Mineral disebutkan bahwa perusaahaan pertambangan wajib melakukan pengolahan dan pemurnian selambat-lambatnya 6 Mei 2012. Aturan ini kemudian dicabut atas keputusan MA. Selanjutnya, pemerintah menerbitkan Permen ESDM No. 11 yang memperpanjang batas waktu kewajiban pengolahan dan pemurnian hingga Januari 2014. Setelah itu pemerintah kembali merevisi aturannya dengan menerbitkan Permen ESDM No.1/2014 yang mengizinkan ekspor tembaga dengan kadar konsentrat 15%, berubah dari aturan sebelumnya yang mensyaratkan minimal 99% kadar pemurnian-nya. Permen itu juga memberikan kelonggaran kepada perusahaan tambang untuk mengekspor konsentrat hingga 2017. Perubahan demi perubahan dilakukan untuk mengakomodasi Freeport dan Newmont yang kadar konsentrat-nya baru 30-40% serta belum memiliki progres dalam pembangunan smelter. Meski selalu mengancam melakukan penghentian ekspor karena tidak dianggap tidak serius membangun smelter, setiap kali izin ekspor perusahaan itu habis, pemerintah tetap melakukan perpanjangan izin ekspor.

Dalam pembayaran royalti, PP No. 9/2012 tentang Penerimaan Negara Bukan pajak telah menetapkan bahwa royalti tembaga sebesar 4%, emas 3,75%, dan perak 3,25%. Namun, Freeport hanya bersedia membayar royalti 1% untuk emas dan 3,5% untuk tembaga. Baru pada Juli 2014, setelah negosiasi yang cukup alot, Freeport bersedia mematuhi aturan itu.

Saat ini, Freeport juga sedang berusaha untuk memperpanjang kontraknya yang akan berakhir tahun 2021. Padahal jika mengacu pada PP Nomor 77/ 2014, Freeport baru bisa mengajukan perpanjangan tahun 2019. Namun, bagi Freeport, tenggang waktu itu tidak memberikan investasi. Berbagai lobi dilakukan perusahaan itu. James R. Moffett, Chairman Freeport-McMoran, bahkan secara diam-diam menemui Jokowi. Akhirnya, Menteri ESDM mengeluarkan surat yang memberikan ‘lampu hijau’ perpanjangan kontrak dengan PT Freeport Indonesia