Rabu, 14 Oktober 2020

Muslimah and The world of married

 


Oleh : Zahra Riyanti


Bagi laki-laki yang ingin menyempurnakan agamanya dengan menikah, jangan tergesa-gesa menentukan pilihan. Salah-salah bukannya mendapat barokah dari pernikahnya malah sebaliknya ditimpa musibah. Untuk itulah perlu direnungkan kembali pesan Nabi saw tentang ketentuan mencari seorang calon istri. Rasulullah saw bersabda “seorang wanita yang penuh barokah dan mendapat anugrah Allah adalah yang maharnya murah, mudah menikahinya dan baik akhlaknya. Namun sebaliknya, wanita yang celaka adalah yang mahal maharnya, sulit menikahinya, dan buruk akhlaknya.”


Jelas sudah bahwa rahasia keberkahan rumah tangga terdapat pada seorang istri. Istri yang sholihah akan mendatangkan barokah kepada suaminya. Rumah tangga akan menjadi tempat menyenangkan serta menentramkan. Sehingga baiti jannati pun akan tercipta.


Selain menjadi istri yang solihah dituntut pula ketika dia dikaruniai anak menjadi ibu yang solihah karena setelah fase pernikahan berlalu maka kehidupan sebenarnya telah dimulai yakni membina dan mengayom generasi yang siap digarda terdepan membela Islam. 


Seperti yang telah dikatakan Seorang wanita akan merasa sempurna jika telah menjadi istri. Seorang istri akan merasa sempurna jika ia telah menjadi seorang ibu dan seorang ibu akan merasa lebih bahagia jika ia dapat melayani suaminya, merawat, mendidik serta melihat tumbuh kembang anaknya sendiri. Semua itu bisa dilakukan jika wanita itu menjadi ibu rumah tangga.


Oleh karenanya ada pepetah Islam mengatakan : 

“Seorang anak yang rusak masih bisa menjadi baik asal ia pernah mendapatkan pengasuhan seorang ibu yang baik.


Sebaliknya, seorang ibu yang rusak akhlaknya, atau memeiliki karakter yang buruk hanya akan melahirkan generasi yang rusak pula akhlaknya. Itulah mengapa yang dihancurkan pertama kali oleh orang-orang kafir adalah wanita.”


Ucapan diatas dilontarkan oleh Muhammad Quthb, dalam sebuah ceramahnya puluhan tahun silam. Muhammad Quthb adalah ulama Mesir, beliau pernah juga menuturkan : 


“Dalam Islam, wanita bukanlah sekadar sarana untuk melahirkan, mengasuh, dan menyusui. Kalau hanya sekadar begitu, Islam tidak perlu bersusah payah mendidik, mengajar, menguatkan iman, dan menyediakan jaminan hidup, jaminan hukum dan segala soal psikologis untuk menguatkan keberadaannya. Kenapa dikatakan mendidik bukan sekadar melahirkan, membela dan menyusui yang setiap kucing dan sapi subur pun mampu melakukannya.”


 


Konsep inilah yang tidak terjadi di Negara Barat. Barat mengalami kehancuran total pada sisi masyarakatnya karena bermula dari kehancuran moral yang menimpa wanitanya. Wanita-wanita Barat hanya dikonsep untuk mendefinisikan arti kepribadian dalam pengertian yang sangat primitif dan sempit, yakni tidak lain konsep pemenuhan biologis semata.


Tak heran para perempuan ini hanya dijadikan tokoh yang tertindas dan terintimidasi dalam pentas pernikahan, fakta ini menjadi umpan yang bagus untuk membangun narasi dan wacana yang menutut penyetaraan kesempatan dan gender sehingga tren yang menarik, endingnya perceraian, perselingkuhan dan KDRT menjadi pemandangan yang memilukan.


Oleh karena itu dalam islam mendidik anak itu bukanlah perkara yang mudah, tetapi membutuhkan ilmu dan cara yang baik. Maka dari itu, dalam mendidik anak sangat membutuhkan kesabaran dan kecerdikan. Ibu membutuhkan kesabaran yang luar biasa untuk mencetak generasi rabbani. Ibulah yang biasanya dan seharusnya menjadi orang pertama yang menjadi teladan bagi anaknya. Ibu adalah sosok pertama yang dilihat, didengar ucapannya, dan disentuh oleh anaknya. Pada umumnya, awal-awal perkembangan seorang anak berada di samping ibunya.


 Pendidikan yang sangat berpengaruh pada kehidupan seorang anak adalah pendidikan yang diterapkan orang tuanya sejak dini. Apapun yang dilakukan ibu akan sangat mempengaruhi pembentukan karakter anak. Di samping itu, kerjasama antara seorang ayah dan ibu haruslah ada dalam mendidik anak karena sosok seorang ayah juga berpengaruh pada pendidikan anak.


Beberapa hal yang perlu dilakukan orang tua dalam mendidik anak antara lain: menanamkan ajaran tauhid atau akidah Islam yang lurus sejak kecil berikut tsaqofah-tsaqofah Islam mengajar anak agar berahlakul karimah, mendidik agar berbakti kepada orang tuanya, mengajarkan apa saja yang diperintahkan dan dilarang oleh Allah, menanamkan rasa cinta kepada Rasulullah saw, keluarga Rasulullah, Al-Quran, dan As-Sunnah, dan lain sebagainya. Jika kedua orang tua menginginkan kemuliaan anak-anaknya, hendaknya keduanya bersungguh-sungguh dalam mendidik anak-anaknya dengan pendidikan islami dan mengajarkan Al-Quran dan As-Sunnah.


Anak adalah aset yang menguntungkan bagi orangtuanya di akhirat jika di dunia dia menjadi anak yang shalih/shalihah.Termasuk sebab diangkatnya derajat kedua orang tua adalah anak shalih yang mendoakan keduanya. Rasulullah saw bersabda, “Jika anak adam mati, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakannya,” (HR Muslim). 


So jadilah muslimah yang benar-benar berislam kaffah berilmu yang luas sebelum melangkahkan kaki ke gerbang pernikahan yang didalamnya ada segudang tanggung jawab dan amanah yang besar, yang amanah itu bakal kita pertanggungjawabkan dihadapan Allah kelak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar