Senin, 04 November 2019

ILUSI MERDEKA

Oleh : Zahra riyanti 

Lonceng merdeka telah berdentang
Bermuara suka di dada dada ‘pahlawan’
Menggetarkan tangan para penjajah
Anak-anak ikut menderma tawa juga bahagia
Bahkan membakar gelora semangat pemuda
Gempita ‘Merdeka’ menerobos lajunya angin dan menembus segala jarak
Ulama pun terdiam bisu dengan takbir dalam jiwa
Hampa berbalut luka lembar-lembar putih telah bersuara
‘Belenggu penjajah telah tiada
Tapi Ku Bertanya tanya sudah habiskah dukaku?

Gempulan asap itu telah punah berganti cerah
Mewarnai lagi bangsaku yang dulu kelam beganti cahaya
Matahari ‘merdeka’ telah terbit diufuk papua
Bambu runcing dan panah-panah telah terhempas
Menyambut kedatangan masa masa baru Nusantara
Ku terpaku menatap gembirannya rakyat jelata
Lepas dari tangan penjajah yang basah dengan darah
Warta dan wacana 'merdeka’ telah menghiasi media
Daku pun masih bertanya sudah habiskah  sedihku?

Kuterseok di samping lorong tak bersuara
Menatap langit hampa penuh curiga
Irama sendu penuh suram mencoba menerpa telinga
Nada tercipta sembari bekata ‘berkibarlah benderahku merah putih yang perwira’
Kuterharu sambil tertawa siapa dia yang coba menggoda
Ternyata dia aduhai sang pujangga
Menggambar sosok pusara tak bernama yang terlantar di debu senja.
berakhirkah mimpi buruk ini aku dalam tanya?

Engkau berdiri dengan gagah penuh citra
Bersama kolega engkau berbicara penuh siasat dan banyak cerita
Diatas mimbar penuh hormat dan sanjungan kata
Engkau digelar proklamator bersahaja dan berwibawa
Disanalah dinasti soekarno Hatta tercipta

Perancis beganti belanda dalam warna eropa
Atau Asia bermacan jepang dan China
Kan Terpampang jelas dalam lukisan tua bersejarah
Menjadi pelangi redup menebarkan luka
Buku-bukupunkan bersabda lestarikan tradisi juang dalam dada
Kepalan tangan pun dapat mendobrak segalanya
Menabuh kembali ingatan segar tentangmu para pendusta
Dimanakah hatimu kala aku terluka?

Dinasti itu telah dilempar ke angkasa tanpa etika
Berjasa namun tidak dibalas tanda penuh hina
Tenunan Bijak kau sulam adil namun salah kaprah
Membunuhmu di batas waktu 30 tahun berkuasa
Mereka tertawa sambil menendang jauh luka mu diluar rasa
Tersipu malu dalam jepretan foto bertebaran gentayangan dialam elektronika
Sumpah setiamu murah dinista berlumur dosa
Itukah cita cinta mu wahai paduka?

zaman berjalan bak busur panah mencari arah
dalam barisan kenangan dihias alunan biola
buyut buyutku masih bergumam tentang pancarobah
yang diusung oleh jemari martir marrtir mulia
bermandi darah dan pengorbanan mencari posisi duka
agar terus menjelma dalam memori dan nostalgia
tapi apa hendak dikata kau hujamkan sembilu hingga tak berdaya
kala 32 tahun kau sematkan huru hara dalam luka lama
kebengisanmu murah bersimbah keji  di kepala putra putri bangsa
darimulah, Phobia agama hingga obral hukum dikarya
kau tersenyum dalam wahana layar kaca melihat pembantaian merajalela
atas nama pancasila nyawa-nyawa layak sampah tak berharga
anak-anak mencari cinta kau punahkan
oh- dinasti kelam itu takkan sirna walau tak serupa

Tragedi tragedi kejam itu telah terkubur dalam kisah
Keroncong dan wayang telah mendrama
Kisah kasih di hari ini masih dalam cengkraman
Dalam rencana jahat penuh syahwat dan kepentingan
Padahal genderang reformasi telah ditabuh menandakan
Samudra jajah telah tenggelam selamanya
Namun apakah kataku mampu menipu realita?

kini jalan itu terus ada namun sepi dan tak kasat mata
embun embun lalu masih bisu dalam bahasa
aku masih syahdu dengan lantunan lantunan murahan
memberi sensasi plong kata coca cola
aku terbahak menyangkali kondisi kondisi dunia disisi era
kampanye produk menngganti jabatan peluru menembak massa
orang terbuai dengan fun food fashion yang dijajak mereka
pak pos bisa bercumbu dengan posko layanan kesehatan
hingga penguasa membina cinta dengan pengusaha
semua hilir mudik berita mengiris-iris logika
aku masih senyap dengan penuh tanya, sudah habiskah deritaku?

Kutatap pendidikanku yang kini sudah sebaya usia
Kurikulum bergonta ganti diruang para pemungut suara
Palu diketuk menidurkanku dalam bayang bayang sakit penuh lelah
Kulihat mereka berseteru melawan arus para rakyat kerdil tak berkuasa
Yang bergumam agar keadilan dan makmur bisa merata
Tapi apalah daya tangan tak bisa meraba
Dokumen-dokumen monumental disimpan bak perkakas antik yang dilindungi negara

Kulirik tragisnya ekonomiku kaku tak bergerak layak hewan melata
Menggigitku saat dunia meledekku anak rupiah
Bisnis bisnis durjana penyembah syetan jadi budaya
Dari MLM, koperasi, hingga saham bermandi bunga
Loyal dan penuh damai bahkan bangga meminum virus riba
Pejabat bersimedi dimuara gangga demi mendapat tahta
Pelajar-pelajar itupun terbius duduk dikursi semahal mereka
Harga diri tak lagi dipermak bahkan haus dan terus lapar pada harta

Disisi belakang daku menatap semrawut figur figur terindah
Mereka yang bahkan kalah dari intan emas dan mutiara
Sebagai harta berharga meski habis dollar Amerika
Tapi kini potret itu buram membutakan akal dan mata
Mereka dirayu seperti nuklir membasmi bumi menjadi nestapa
Dialah wanita, kulit dan rambutnya mudah didapat seperti bayam-bayam dipasar
Mantra kosmetik yang memudarkan pandangan bersama fashion dipajang
mau menjadi penyembah primadona gender dan feminis disinggasana
untuk iklan iklan yang terus memanjakan pandangan dalam  khayalan
aku sakit dan tak bisa mengendus lagi aroma peradaban

kini aku masih terus melangkah jauh mencari makna
yang masih menyimpan harapan cahaya indah
mengabarkanku dari lisan suci Rasul baginda
tentang mata air cinta hidup penuh barokah
yang kan terus bersemi dalam sabda mulia
menghiasi generasi dari masa ke masa
melampaui akal dan mata manusia

dan meski mata sayu layu dalam marah
hati penuh gelisah susah dan tak berbeda
makin kukencang sabuk cinta dalam perang tak berwarna
yang bersemayam dalam pikiran jiwa dan raga
ialah wahyu ilahi dalam wadah bernama mabda
yang pernah melukis dunia dengan tinta emas permata
mencatat sejarah bak bunga-bunga syurga
kafir dan beriman pun terkagum tak berdaya
itulah negeri Islam bumi yang hilang ditelan masa

3 komentar: