Senin, 04 November 2019

DEMAM K-POP DAN KRISIS IDENTITAS GENERASI

Oleh : Zahra Riyanti

Korean wafe sejak 15 tahun terkahir telah mengguncang pasar musik dunia beserta budaya inheren didalamnya. Budaya permisif, liberal dan individualistik yang begitu kental terasa. Indonesia pun tidak luput dari 'virus' ini, Fakta berbicara  beberapa kawasan asia termasuk Indonesia menjadi basis konsumen tertinggi dalam pembelian pernak pernik K-POP baik lightstik, album, poster, majalah, tiket konser dll di sepanjang dekade itu. Hal ini tidaklah lain dan tidaklah bukan adalah bagian dari keberhasilan strategi barat dalam menggempur akidah dan budaya kaum muslimin khususnya generasi mudanya dengan menggunakan Korea Selatan sebagai satelitnya.

Di beberapa aspek Indonesia mirip Korsel. Reruntuhan abu Perang Korea (1950-1953) melahirkan generasi meritokratik (tokoh-tokoh berjasa besar) yang sangat menentukan pembangunan Korea selatan, hingga menjadi negara maju, seperti saat ini.

Daniel Tudor, koresponden untuk majalah The Economist, menulis buku menarik tentang Korea Selatan berjudul Korea, The Impossible Country (2012). Buku ini bercerita tentang kisah Korsel dari negeri yang dibelit kemiskinan dan di bawah kekuasaan tangan diktator menjelma menjadi negeri modern dan makmur; negeri yang enerjik. Ibarat metamorfosa, “from nothing to something”. Korsel, menurut Tudor, memiliki 2 mukjizat yang telah menjadikan ”Negeri Ginseng” itu seperti sekarang ini.

Pertama,”Mukjizat Sungai Han”. Han adalah sungai besar yang membelah Ibukota Korsel, Seoul dan merupakan sungai terpanjang keempat (494 kilometer) setelah Sungai Amnok, Duman, dan Nakdong. Istilah ”Mukjizat Sungai Han” digunakan untuk menggambarkan pertumbuhan ekonomi Korsel setelah Perang Korea 1953 yang demikian cepat: dari sebuah negara yang terpuruk karena perang, terbelakang secara ekonomi, pengangguran menumpuk, serta infrastruktur hancur, menjadi negara modern dan makmur. Kini, perekonomian Korsel didominasi para chaebol, konglomerat keluarga. Di antaranya adalah Hyundai, Daewoo, Samsung, LG, Hanjin, SK Industrie, dan Kumho-Asiana. Produknya dapat dengan mudah kita temui di Indonesia.

Mukjizat kedua adalah transformasi politik dari negara diktator militer menjadi negara demokratis.

Di kawasan Asia, ada negara-negara lain yang sukses secara ekonomi, tetapi tidak secara politik seperti Korsel. Misalnya, Singapura dan China. Kedua negara itu maju secara ekonomi, tetapi secara politik, menurut istilah Tudor, masih di bawah sistem politik otoritarian.

Korsel kini, physically, memang sudah maju dan modern. Namun, apakah sudah sesuai dengan cita-cita para bapak-pendiri bangsanya? Tentu belum, Salah seorang pejuang kemerdekaan Korsel, Kim Gu (1876-1949), pernah mengatakan, ”Saya tidak menginginkan bangsa kami menjadi bangsa yang paling kuat dan kaya di dunia... Yang kami inginkan hanyalah menjadi ’bangsa terindah di dunia’ yang memberikan kebahagiaan bagi bangsa kita sendiri dan bangsa-bangsa lain.” (Trias Kuncahyono: 2014)

Cita-cita Kim Gu hingga kini belum sepenuhnya terwujud, bahkan jauh dari fakta yang ada Sebab, Korsel, sebagaimana hari ini, dicekoki oleh hegemoni Amerika Serikat (AS) melalui para kompradornya yang sibuk saling sikut memburu kekuasaan. Kisruh pemakzulan atas Presiden Park Geun Hye, beberapa waktu lalu, menegaskan hal tersebut.

Disisi lain, saat ini setidaknya ada 54.000 tentara AS yang ditempatkan di Korsel guna membantu pertahanan. Akibat ketergantungan ini, Korsel praktis secara politik, ekonomi bahkan militer disetir oleh AS.

Dari sini tampak bahwa korsel sedang berada dibawah bayang bayang tekanan yang tak dapat dihindari membuat mereka dihadapkan oleh laju bencana clash civilization (Benturan peradaban) yang sebagaimana kita tahu budaya mereka begitu kental akan hal hal tradisionalis dan origins kini berubah wujud akibat infiltrasi budaya hedonis-materialistiknya Amerika.

Kembali pada platform K-Pop ada beberapa hal yang harus diamati dalam konten kontennya seperti MV dan albumnya tampak upaya penyusupan teori konspirasi dajjal, oleh kaum luciferian atau penyembah Setan seperti pada artis papan atasnya BTS, WANNA ONE, EXO, BLACKPINK, REDVELVET, BIGBANG dll  semuanya telah di design menjadi pengikut dajjal bahkan diagenkan oleh agensi yang menaungi mereka. Membawa simbol, lambang, tarian serta mantra yang begitu membius seperti bintang David (Pentagram), segitiga piramida, one eye (mata satu) dan tarian memanggil arwah jahat dan lain sebagainya. Walhasil ini bisa mempengaruhi alam bawa sadar kita (efek Sihir Tak kasat mata)  yang tanpa disadari kita bisa terbawa oleh keindahan, ketampanan, kecantikan dan kemegahan palsu yang ditawarkan mereka. muaranya anak anak muda kita bisa begitu menggila dengan semua itu.

Hal ini menunjukan bahwa sedikit lagi Indonesia akan sama menyusul kondisi korsel ini. Dilihat dari beberapa aspek ringkasnya seperti hal hal diatas yaitu kebebasan berekpsresi yang kian dipertuhankan, permisif atau budaya hedon ( hura hura, kongko kongko dll) dan materialistik. Yang tercermin dari banyaknya anak anak muda kita yang aktif dan fanatik memburu hal hal per K-Popan inindaripada belajar, atau mengkaji Islam. Lebih senang hadir di event event idolanya dari Konsernya, fanmeeting, fansign, showcase dll ketimbang ngumpul bareng teman teman yang soleh solehah belajar Al-Qur'an dan Al-Hadits

Sehingga belakangan reputasi Republik ini kian hancur dengan munculnya beragam masalah seperti, pemerkosahan, pembunuhan, seks bebas, drugs, menjamurnya KKN (Korupsi  dikalangan penguasa dll, akibat dari absennya generasi muda dipanggung politik untuk turut andil menyelesaikan persoalan ini karena telah terpalingkan sama Oppa oppa 'dajjal' Idolanya itu. Padahal mereka adalah amanah perdaban sebagai problem solver disetiap masa, ditangan mereka wajah dunia ini akan menjadi seperti apa. Oleh karna itu bila hal ini tidak segera diselesaikan maka kehancuran peradaban kita akan segera tiba. Dan patut untuk direnungi bahwa demam k-pop ini telah menciptakan gelombang krisis moral dan ahlak generasi diseluruh negeri negeri Islam wabil khusus Indonesia sehingga harus ada solusi tuntas untuk mengakhiri persoalan ini dan solusi itu tidaklah lain dan tidaklah bukan adalah Islam, yang telah dijamin Allah bisa menyudahi semua permasalahan manusia termasuk krisis identitas generasi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar