Senin, 04 November 2019

ILUSI MERDEKA

Oleh : Zahra riyanti 

Lonceng merdeka telah berdentang
Bermuara suka di dada dada ‘pahlawan’
Menggetarkan tangan para penjajah
Anak-anak ikut menderma tawa juga bahagia
Bahkan membakar gelora semangat pemuda
Gempita ‘Merdeka’ menerobos lajunya angin dan menembus segala jarak
Ulama pun terdiam bisu dengan takbir dalam jiwa
Hampa berbalut luka lembar-lembar putih telah bersuara
‘Belenggu penjajah telah tiada
Tapi Ku Bertanya tanya sudah habiskah dukaku?

Gempulan asap itu telah punah berganti cerah
Mewarnai lagi bangsaku yang dulu kelam beganti cahaya
Matahari ‘merdeka’ telah terbit diufuk papua
Bambu runcing dan panah-panah telah terhempas
Menyambut kedatangan masa masa baru Nusantara
Ku terpaku menatap gembirannya rakyat jelata
Lepas dari tangan penjajah yang basah dengan darah
Warta dan wacana 'merdeka’ telah menghiasi media
Daku pun masih bertanya sudah habiskah  sedihku?

Kuterseok di samping lorong tak bersuara
Menatap langit hampa penuh curiga
Irama sendu penuh suram mencoba menerpa telinga
Nada tercipta sembari bekata ‘berkibarlah benderahku merah putih yang perwira’
Kuterharu sambil tertawa siapa dia yang coba menggoda
Ternyata dia aduhai sang pujangga
Menggambar sosok pusara tak bernama yang terlantar di debu senja.
berakhirkah mimpi buruk ini aku dalam tanya?

Engkau berdiri dengan gagah penuh citra
Bersama kolega engkau berbicara penuh siasat dan banyak cerita
Diatas mimbar penuh hormat dan sanjungan kata
Engkau digelar proklamator bersahaja dan berwibawa
Disanalah dinasti soekarno Hatta tercipta

Perancis beganti belanda dalam warna eropa
Atau Asia bermacan jepang dan China
Kan Terpampang jelas dalam lukisan tua bersejarah
Menjadi pelangi redup menebarkan luka
Buku-bukupunkan bersabda lestarikan tradisi juang dalam dada
Kepalan tangan pun dapat mendobrak segalanya
Menabuh kembali ingatan segar tentangmu para pendusta
Dimanakah hatimu kala aku terluka?

Dinasti itu telah dilempar ke angkasa tanpa etika
Berjasa namun tidak dibalas tanda penuh hina
Tenunan Bijak kau sulam adil namun salah kaprah
Membunuhmu di batas waktu 30 tahun berkuasa
Mereka tertawa sambil menendang jauh luka mu diluar rasa
Tersipu malu dalam jepretan foto bertebaran gentayangan dialam elektronika
Sumpah setiamu murah dinista berlumur dosa
Itukah cita cinta mu wahai paduka?

zaman berjalan bak busur panah mencari arah
dalam barisan kenangan dihias alunan biola
buyut buyutku masih bergumam tentang pancarobah
yang diusung oleh jemari martir marrtir mulia
bermandi darah dan pengorbanan mencari posisi duka
agar terus menjelma dalam memori dan nostalgia
tapi apa hendak dikata kau hujamkan sembilu hingga tak berdaya
kala 32 tahun kau sematkan huru hara dalam luka lama
kebengisanmu murah bersimbah keji  di kepala putra putri bangsa
darimulah, Phobia agama hingga obral hukum dikarya
kau tersenyum dalam wahana layar kaca melihat pembantaian merajalela
atas nama pancasila nyawa-nyawa layak sampah tak berharga
anak-anak mencari cinta kau punahkan
oh- dinasti kelam itu takkan sirna walau tak serupa

Tragedi tragedi kejam itu telah terkubur dalam kisah
Keroncong dan wayang telah mendrama
Kisah kasih di hari ini masih dalam cengkraman
Dalam rencana jahat penuh syahwat dan kepentingan
Padahal genderang reformasi telah ditabuh menandakan
Samudra jajah telah tenggelam selamanya
Namun apakah kataku mampu menipu realita?

kini jalan itu terus ada namun sepi dan tak kasat mata
embun embun lalu masih bisu dalam bahasa
aku masih syahdu dengan lantunan lantunan murahan
memberi sensasi plong kata coca cola
aku terbahak menyangkali kondisi kondisi dunia disisi era
kampanye produk menngganti jabatan peluru menembak massa
orang terbuai dengan fun food fashion yang dijajak mereka
pak pos bisa bercumbu dengan posko layanan kesehatan
hingga penguasa membina cinta dengan pengusaha
semua hilir mudik berita mengiris-iris logika
aku masih senyap dengan penuh tanya, sudah habiskah deritaku?

Kutatap pendidikanku yang kini sudah sebaya usia
Kurikulum bergonta ganti diruang para pemungut suara
Palu diketuk menidurkanku dalam bayang bayang sakit penuh lelah
Kulihat mereka berseteru melawan arus para rakyat kerdil tak berkuasa
Yang bergumam agar keadilan dan makmur bisa merata
Tapi apalah daya tangan tak bisa meraba
Dokumen-dokumen monumental disimpan bak perkakas antik yang dilindungi negara

Kulirik tragisnya ekonomiku kaku tak bergerak layak hewan melata
Menggigitku saat dunia meledekku anak rupiah
Bisnis bisnis durjana penyembah syetan jadi budaya
Dari MLM, koperasi, hingga saham bermandi bunga
Loyal dan penuh damai bahkan bangga meminum virus riba
Pejabat bersimedi dimuara gangga demi mendapat tahta
Pelajar-pelajar itupun terbius duduk dikursi semahal mereka
Harga diri tak lagi dipermak bahkan haus dan terus lapar pada harta

Disisi belakang daku menatap semrawut figur figur terindah
Mereka yang bahkan kalah dari intan emas dan mutiara
Sebagai harta berharga meski habis dollar Amerika
Tapi kini potret itu buram membutakan akal dan mata
Mereka dirayu seperti nuklir membasmi bumi menjadi nestapa
Dialah wanita, kulit dan rambutnya mudah didapat seperti bayam-bayam dipasar
Mantra kosmetik yang memudarkan pandangan bersama fashion dipajang
mau menjadi penyembah primadona gender dan feminis disinggasana
untuk iklan iklan yang terus memanjakan pandangan dalam  khayalan
aku sakit dan tak bisa mengendus lagi aroma peradaban

kini aku masih terus melangkah jauh mencari makna
yang masih menyimpan harapan cahaya indah
mengabarkanku dari lisan suci Rasul baginda
tentang mata air cinta hidup penuh barokah
yang kan terus bersemi dalam sabda mulia
menghiasi generasi dari masa ke masa
melampaui akal dan mata manusia

dan meski mata sayu layu dalam marah
hati penuh gelisah susah dan tak berbeda
makin kukencang sabuk cinta dalam perang tak berwarna
yang bersemayam dalam pikiran jiwa dan raga
ialah wahyu ilahi dalam wadah bernama mabda
yang pernah melukis dunia dengan tinta emas permata
mencatat sejarah bak bunga-bunga syurga
kafir dan beriman pun terkagum tak berdaya
itulah negeri Islam bumi yang hilang ditelan masa

“Freeport dan lingkaran mafia politisi simbol penjajahan kapitalisme di Indonesia”

Oleh : Zahra Riyanti
Lensa Freeport
Pada akhir tahun 1996 lalu, sebuah artikel yang ditulis oleh seorang penulis Lisa Pease yang dimuat dalam majalah Probe. Tulisan ini juga disimpan dalam National Archive di Washington DC. Judul tulisan tersebut adalah “JFK, Indonesia, CIA and Freeport“.Walau dominasi Freeport atas “gunung emas” di Papua telah dimulai sejak tahun 1967, namun kiprahnya di negeri ini ternyata sudah dimulai beberapa tahun sebelumnya. Dalam tulisannya yang dimuat dalam majalah Probe itu, Lisa Pease mendapatkan temuan jika Freeport Sulphur, demikian nama perusahaan itu awalnya, nyaris bangkrut berkeping-keping ketika terjadi pergantian kekuasaan di Kuba pada tahun 1959. Saat itu di Kuba, Fidel Castro berhasil menghancurkan rezim diktator Batista. Oleh Castro, seluruh perusahaan asing di negeri itu dinasionalisasikan. Freeport Sulphur yang baru saja hendak melakukan pengapalan nikel produksi perdananya dari Kuba, akhirnya terkena imbasnya  Maka terjadi ketegangan di Kuba.
Menurut Lisa, berkali-kali CEO Freeport Sulphur merencanakan upaya pembunuhan terhadap Fidel Castro, namun berkali-kali pula menemui kegagalan. Ditengah situasi yang penuh ketidakpastian, pada Agustus 1959, Forbes Wilson yang menjabat sebagai Direktur Freeport Sulphur melakukan pertemuan dengan Direktur pelaksana East Borneo Company, Jan van Gruisen. Dalam pertemuan itu Gruisen bercerita jika dirinya menemukan sebuah laporan penelitian atas Gunung Ersberg (Gunung Tembaga) di Irian Barat yang ditulis Jean Jacques Dozy di tahun 1936. Uniknya, laporan itu sebenarnya sudah dianggap tidak berguna dan tersimpan selama bertahun-tahun begitu saja di perpustakaan Belanda. Namun, Van Gruisen tertarik dengan laporan penelitian yang sudah berdebu itu dan kemudian membacanya. Dengan berapi-api, Van Gruisen bercerita kepada pemimpin Freeport Sulphur itu jika selain memaparkan tentang keindahan alamnya, Jean Jaques Dozy juga menulis tentang kekayaan alamnya yang begitu melimpah. Tidak seperti wilayah lainnya diseluruh dunia, maka kandungan biji tembaga yang ada disekujur tubuh Gunung Ersberg itu terhampar di atas permukaan tanah, jadi tidak tersembunyi di dalam tanah. Mendengar hal itu, Wilson sangat antusias dan segera melakukan perjalanan ke Irian Barat untuk mengecek kebenaran cerita itu. Di dalam benaknya, jika kisah laporan ini benar, maka perusahaannya akan bisa bangkit kembali dan selamat dari kebangkrutan yang sudah di depan mata.
Selama beberapa bulan, Forbes Wilson melakukan survey dengan seksama atas Gunung Ersberg dan juga wilayah sekitarnya. Penelitiannya ini kelak ditulisnya dalam sebuah buku berjudul “The Conquest of Cooper Mountain”. Wilson menyebut gunung tersebut sebagai harta karun terbesar, yang untuk memperolehnya tidak perlu menyelam lagi karena semua harta karun itu telah terhampar di permukaan tanah. Dari udara, tanah disekujur gunung tersebut berkilauan ditimpa sinar matahari. Wilson juga mendapatkan temuan yang  nyaris membuatnya gila. Karena selain dipenuhi bijih tembaga, gunung tersebut ternyata juga dipenuhi bijih emas dan perak Menurut Wilson, seharusnya gunung tersebut diberi nama GOLD MOUNTAIN, bukan Gunung Tembaga. Sebagai seorang pakar pertambangan, Wilson memperkirakan jika Freeport akan untung besar, hanya dalam waktu tiga tahun pasti sudah kembali modal. Pimpinan Freeport Sulphur ini pun bergerak dengan cepat.
Pada 1 Februari 1960, Freeport Sulphur meneken kerjasama dengan East Borneo Company untuk mengeksplorasi gunung tersebut. Namun lagi-lagi Freeport Sulphur mengalami kenyataan yang hampir sama dengan yang pernah dialaminya di Kuba. Perubahan eskalasi politik atas tanah Irian Barat tengah mengancam Hubungan Indonesia dan Belanda telah memanas dan Soekarno malah mulai menerjunkan pasukannya di Irian Barat. Tadinya Wilson ingin meminta bantuan kepada Presiden AS John Fitzgerald Kennedy (JFK) agar mendinginkan Irian Barat. Namun ironisnya, JFK malah sepertinya mendukung Soekarno. Kennedy mengancam Belanda, akan menghentikan bantuan Marshall Plan jika ngotot mempertahankan Irian Barat. Belanda yang saat itu memerlukan bantuan dana segar untuk membangun kembali negerinya dari puing-puing kehancuran akibat Perang Dunia II, terpaksa mengalah dan mundur dari Irian Barat. Ketika itu sepertinya Belanda tidak tahu jika Gunung Ersberg sesungguhnya mengandung banyak emas, bukan tembaga. Sebab jika saja Belanda mengetahui fakta sesungguhnya, maka nilai bantuan Marshall Plan yang diterimanya dari AS tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan nilai emas yang ada di gunung tersebut. Dampak dari sikap Belanda untuk mundur dari Irian Barat menyebabkan perjanjian kerjasama dengan East Borneo Company mentah kembali. Para pemimpin Freeport jelas marah besar. Presiden AS, John F Kennedy ditembak saat bersama istrinya di mobil kap terbuka Presiden AS, John F Kennedy ditembak saat bersama istrinya di mobil kap terbuka pada 22 November 1963. Apalagi mendengar Kennedy akan menyiapkan paket bantuan ekonomi kepada Indonesia sebesar 11 juta AS dengan melibatkan IMF dan Bank Dunia. Semua ini jelas harus dihentikan Segalanya berubah seratus delapan puluh derajat ketika Presiden Kennedy tewas ditembak pada 22 November 1963.
Banyak kalangan menyatakan penembakan Kennedy merupakan sebuah konspirasi besar menyangkut kepentingan kaum Globalis yang  hendak mempertahankan hegemoninya atas kebijakan politik di Amerika. Presiden Johnson yang  menggantikan Kennedy mengambil sikap yang bertolak belakang dengan pendahulunya.  Johnson  malah mengurangi bantuan ekonomi kepada Indonesia, kecuali kepada militernya. Presiden Sukarno pada lawatan kenegaraannya ke Amerika Serikat sedang memeriksa barisan tentara kehormatan Amerika setelah turun dari pesawat didampingi presiden AS, John F Kennedy Salah seorang tokoh di belakang keberhasilan Johnson, termasuk dalam kampanye pemilihan presiden AS tahun 1964, adalah Augustus C.Long, salah seorang anggota dewan direksi Freeport. Tokoh yang satu ini memang punya kepentingan besar atas Indonesia. Selain kaitannya dengan Freeport, Long juga memimpin Texaco, yang membawahi Caltex (patungan dengan Standard Oil of California).
Soekarno pada tahun 1961 memutuskan kebijakan baru kontrak perminyakan yang mengharuskan 60 persen labanya diserahkan kepada pemerintah Indonesia. Caltex sebagai salah satu dari tiga operator perminyakan di Indonesia jelas sangat terpukul oleh kebijakan Soekarno ini. Augustus C.Long, salah seorang anggota dewan direksi Freeport dan pemimpin Texaco, yang membawahi Caltex, ia juga chairman Presbyterian Hospital Board dan Penasehat CIA di kepresidenan AS untuk masalah luar negeri. Augustus C.Long amat marah terhadap Soekarno dan amat berkepentingan agar orang ini disingkirkan secepatnya. Mungkin suatu kebetulan yang ajaib, Augustus C. Long juga aktif di Presbysterian Hospital di New York, dimana dia pernah dua kali menjadi presidennya (1961-1962). Sudah bukan rahasia umum lagi jika tempat ini merupakan salah satu simpul pertemuan tokoh CIA.
Lisa Pease dengan cermat menelusuri riwayat kehidupan tokoh ini. Antara tahun 1964 sampai 1970, Long pensiun sementara sebagai pemimpin Texaco. Apa saja yang dilakukan orang ini dalam masa itu, yang di Indonesia dikenal sebagai “masa yang paling krusial”. Pease  mendapatkan data jika pada Maret 1965, Augustus C. Long terpilih sebagai Direktur Chemical Bank, salah satu perusahaan Rockefeller. Pada bulan Agustus 1965, Long diangkat menjadi anggota dewan penasehat intelejen kepresidenan AS untuk masalah luar negeri. Badan ini memiliki pengaruh sangat besar untuk menentukan operasi rahasia AS di negara-negara tertentu. Long diyakini salah satu tokoh yang merancang kudeta terhadap Soekarno, yang dilakukan AS dengan menggerakkan sejumlah perwira Angkatan Darat yang disebutnya sebagai Our Local Army Friend. menurut pengamat sejarawan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr Asvi Marwan Adam, Soekarno benar-benar ingin sumber daya alam Indonesia dikelola oleh anak bangsa sendiri. Asvi juga menuturkan, sebuah arsip di Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta mengungkapkan pada 15 Desember 1965 sebuah tim dipimpin oleh Chaerul Saleh di Istana Cipanas sedang membahas nasionalisasi perusahaan asing di Indonesia. Soeharto yang pro-pemodal asing, datang ke sana menumpang helikopter. Dia menyatakan kepada peserta rapat, bahwa dia dan Angkatan Darat tidak setuju rencana nasionalisasi perusahaan asing itu.
Sebelum tahun 1965, seorang taipan dari Amerika Serikat menemui Soekarno. Pengusaha itu menyatakan keinginannya berinvestasi di Papua. Namun Soekarno menolak secara halus. “Saya sepakat dan itu tawaran menarik. Tapi tidak untuk saat ini, coba tawarkan kepada generasi setelah saya,” ujar Asvi menirukan jawaban Soekarno. Soekarno berencana modal asing baru masuk Indonesia 20 tahun lagi, setelah putra-putri Indonesia siap mengelola. Dia tidak mau perusahaan luar negeri masuk, sedangkan orang Indonesia masih memiliki pengetahuan nol tentang alam mereka sendiri. Oleh karenanya sebagai persiapan, Soekarno mengirim banyak mahasiswa belajar ke negara-negara lain. Suharto, sebagai komandan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) disaat memimpin pasukan untuk memerangi G-30/S-PKI. Soekarno boleh saja membuat tembok penghalang untuk asing dan mempersiapkan calon pengelola negara. Namun Asvi menjelaskan bahwa usaha pihak luar yang bernafsu ingin mendongkel kekuasaan Soekarno, tidak kalah kuat, Setahun sebelumnya yaitu pada tahun 1964, seorang peneliti diberi akses untuk membuka dokumen penting Departemen Luar Negeri Pakistan dan menemukan surat dari duta besar Pakistan di Eropa. Dalam surat per Desember 1964, diplomat itu menyampaikan informasi rahasia dari intel Belanda yang mengatakan bahwa dalam waktu dekat, Indonesia akan beralih ke Barat. Lisa menjelaskan maksud dari informasi itu adalah akan terjadi kudeta di Indonesia oleh partai komunis. Sebab itu, angkatan darat memiliki alasan kuat untuk menamatkan Partai Komunis Indonesia (PKI), setelah itu membuat Soekarno menjadi tahanan.
Telegram rahasia dari Departemen Luar Negeri Amerika Serikat ke Perserikatan Bangsa-Bangsa pada April 1965 menyebut Freeport Sulphur sudah sepakat dengan pemerintah Indonesia untuk penambangan puncak Erstberg di Papua. Salah satu bukti sebuah telegram rahasia Cinpac 342, 21 Januari 1965, pukul 21.48, yang menyatakan ada pertemuan para penglima tinggi dan pejabat Angkatan Darat Indonesia membahas rencana darurat itu, bila Presiden Soekarno meninggal. Namun kelompok yang dipimpin Jenderal Soeharto tersebut ternyata bergerak lebih jauh dari rencana itu. Jenderal Suharto justru mendesak angkatan darat agar mengambil-alih kekuasaan tanpa menunggu Soekarno berhalangan. Mantan pejabat CIA Ralph Mc Gehee juga  pernah bersaksi bahwa semuanya itu memang benar adanya. Soeharto diberikan mandat dengan dikeluarkannya Supersemar untuk mengatasi keadan oleh presiden Sukarno Soeharto diberikan mandat dengan dikeluarkannya Supersemar untuk mengatasi keadan oleh presiden Sukarno Maka dibuatlah PKI sebagai kambing hitam sebagai tersangka pembunuhan 7 Dewan Jenderal yang pro Sukarno melalui Gerakan 30 September yang didalangi oleh PKI, atau dikenal oleh pro-Suharto sebagai “G-30/S-PKI” dan disebut juga sebagai Gestapu (Gerakan Tiga Puluh) September oleh pro-Sukarno. Setelah pecahnya peristiwa Gerakan 30 September 1965, keadaan negara Indonesia berubah total. Terjadi kudeta yang telah direncanakan dengan “memelintir dan mengubah” isi Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) 1966, yang pada akhirnya isi dari surat perintah itu disalahartikan. Dalam Supersemar, Sukarno sebenarnya hanya memberi mandat untuk mengatasi keadaan negara yang kacau-balau kepada Suharto, bukan justru menjadikannya menjadi seorang presiden. Suharto dan Tien Suharto berdiri di depan Patung 7 Jenderal di daerah Lubang Buaya yang dalam pelajaran sejarah, mereka telah “dibunuh PKI” lalu jasadnya ditemukan hanya dalam satu lubang sumur di daerah Lubang Buaya.  Dalam artikel berjudul JFK, Indonesia, CIA, and Freeport yang diterbitkan majalah Probe edisi Maret-April 1996, Lisa Pease menulis bahwa akhirnya pada awal November 1965, satu bulan setelah tragedi terbunuhnya sejumlah perwira loyalis Soekarno (yang dikenal juga sebagai 7 dewan Jenderal yang dibunuh PKI), Forbes Wilson mendapat telpon dari Ketua Dewan Direktur Freeport, Langbourne Williams, yang menanyakan, “Apakah Freeport sudah siap untuk mengekplorasi gunung emas di Irian Barat?. Forbes Wilson jelas kaget. Dengan jawaban dan sikap tegas Sukarno yang juga sudah tersebar di dalam dunia para elite-elite dan kartel-kartel pertambangan dan minyak dunia, Wilson tidak percaya mendengar pertanyaan itu. Dia berpikir Freeport masih akan sulit mendapatkan izin karena Soekarno masih berkuasa. Ketika itu Soekarno masih sah sebagai presiden Indonesia bahkan hingga 1967, lalu darimana Williams yakin gunung emas di Irian Barat akan jatuh ke tangan Freeport? Lisa Pease mendapatkan jawabannya. Para petinggi Freeport ternyata sudah mempunyai kontak dengan tokoh penting di dalam lingkaran elit Indonesia. Oleh karenanya, usaha Freeport untuk masuk ke Indonesia akan semakin mudah. Beberapa elit Indonesia yang dimaksud pada era itu diantaranya adalah Menteri Pertambangan dan Perminyakan pada saat itu Ibnu Soetowo . Namun pada saat penandatanganan kontrak dengan Freeport, juga dilakukan oleh menteri Pertambangan Indonesia selanjutnya yaitu Ir. Slamet Bratanata.
Selain itu juga ada seorang bisnisman sekaligus “makelar” untuk perusahaan-perusahaan asing yaitu Julius Tahija. Julius Tahija berperan sebagai penghubung antara Ibnu Soetowo dengan Freeport. Dalam bisnis ia menjadi pelopor dalam keterlibatan pengusaha lokal dalam perusahaan multinasional lainnya, antara lain terlibat dalam PT Faroka, PT Procter & Gambler (Inggris), PT Filma, PT Samudera Indonesia, Bank Niaga, termasuk Freeport Indonesia.Sedangkan Ibnu Soetowo sendiri sangat berpengaruh di dalam angkatan darat, karena dialah yang menutup seluruh anggaran operasional mereka. Sebagai bukti adalah dilakukannya pengesahan Undang-undang Penanaman Modal Asing (PMA) pada 1967 yaitu UU no 1/1967 tentang Penanaman Modal Asing (PMA) yang draftnya dirancang di Jenewa-Swiss yang didektekan oleh Rockefeller seorang Bilderberger dan disahkan tahun 1967. Maka, Freeport menjadi perusahaan asing pertama yang kontraknya ditandatangani Soeharto.
Freeport: Simbol Penjajahan Kapitalisme Di Indonesia
PT Freeport Indonesia kembali mengundang kontraversi. Perusahaan tambang asal AS itu ngotot untuk memperpanjang kontraknya yang akan berakhir tahun 2021. Padahal sejak hadir tahun 1967 lalu, besarnya kerugian yang ditimbulkan oleh perusahaan itu baik dari aspek ekonomi, kemanusiaan dan lingkungan sudah sangat nyata. Sayang, pemerintah yang semestinya membela kepentingan negara dan rakyat justru lebih ‘membela’ kepentingan perusahaan itu. Berdasarkan Laporan Tahunan 2014 Freeport McMoran, cadangan bijih terbukti Freeport Indonesia sebesar 2,5 miliar dengan potensi kandungan emas sebesar 800 ton dan kandungan tembaga sebanyak 13,2 juta ton. Besarnya cadangan itu menempatkan Grasberg sebagai lokasi dengan cadangan emas terbesar dunia dan cadangan tembaga yang masuk dalam 10 besar dunia. Pada tahun 2014, perusahaan itu menghasilkan 288 ribu ton tembaga dan 32 ton emas dari rata-rata produksi bijih (ore) perhari sebanyak 120,500 ton. Jika produksi itu diasumsikan tetap, perusahaan itu butuh 57 tahun lagi atau hingga tahun 2072 untuk menghabiskan cadangan terbukti saat ini. Namun, Freeport McMoran, dalam presentasinya k epada para investor mengklaim, memang perusahaan itu memiliki bahan mineral (material mineralized) yang cukup besar, tetapi belum dikonversi menjadi cadangan terbukti. Artinya, cadangan mineral terbukti yang dikuasai perusahaan itu berpotensi untuk terus bertambah.
Sayang, besarnya cadangan dan pendapatan perusahaan itu tidak banyak dinikmati oleh penduduk Indonesia. Selain pajak, royalti yang dibayarkan perusahaan itu kepada pemerintah sangat kecil. Pada tahun 2014, nilainya hanya Rp 1,5 triliun atau 3,3% dari total pendapatan-nya yang mencapai Rp 47 triliun. Cadangan yang melimpah dan biaya yang murah tersebut menjadi alasan mengapa Freeport sangat beram-bisi untuk terus memperpanjang kontraknya.

Biang Kerok
Kerugian yang ditimbulkan oleh kehadiran Freeport sejatinya bukan hanya masalah ekonomi, namun juga aspek kemanusian dan lingkungan. Suku Amugme dan Kamoro yang merupakan penduduk asli Papua yang dulunya mendiami lokasi pertambangan Freeport telah merasakan bagaimana getirnya hidup mereka sejak adanya Freeport. 1 Pada tahun 1977, misalnya, ketika suku Amungme meledakkan pipa tambang akibat kemarahan mereka atas Freeport, militer dikerahkan untuk menumpas mereka sehingga menyebabkan 900 warga tewas. Pada tahun 1995, pemerintah menggusur 2.000 penduduk yang telah tinggal turun-temurun di sekitar lokasi tambang dan direlokasi ke lokasi lain dengan fasilitas pemukiman yang memprihatikan. Penduduk juga kerap diintimidasi bahkan disiksa hingga tewas dengan alasan mereka terlibat dalam Organisasi Pengacau Keamanan (OPM). 2 Sebagian kalangan bahkan menilai berkembangnya OPM merupakan ekses dari ketidakadilan yang dirasakan masyarakat Papua yang hidup miskin, sementara kekayaan alam mereka justru dinikmati oleh Freeport dan segelintir elit di Jakarta.

Demi menjaga keamanan investasinya, Freeport menetapkan standar keamanan yang cukup ketat. Meski tidak pernah mengakui secara terbuka, berbagai temuan di lapangan menunjukan bahwa Freeport telah membayar aparat militer Indonesia untuk mengamankan perusahaan itu. Sejumlah mantan militer, polisi serta intelijen dari Indonesia dan AS dipekerjakan untuk menjaga keamanan perusahaan itu.3

Freeport juga dikenal sebagai perusahaan yang tidak ramah lingkungan. Limbah tailing yang merupakan residu pertambangan perusahaan itu dibuang tanpa melalui pengolahan yang sesuai standar. Dampaknya, sumberdaya alam di sekitar wilayah pertambangan seperti Sungai Ajkwa, muara, hutan mangrove dan hutan tropis di sekitarnya ikut tercemar. Kadar pencemaran lingkungan yang tinggi tidak hanya mengganggu kesehatan penduduk, namun juga membatasi mereka untuk memanfaatkan sumberdaya alam itu.4 Ironis memang, di satu sisi Freeport mampu mengirim miliaran dolar ke AS, sementara penduduk Indonesia, khususnya penduduk Papua, sebagian besar hidup dalam kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan.

Pelanggar Aturan
Freeport juga kerap membangkang terhadap regulasi pemerintah di sektor pertambangan. UU No. 4/2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara telah mengatur pembatasan luas lahan pertambangan, kewajiban divestasi saham hingga keharusan melakukan pemurnian produk dalam negeri. Meski telah diundangkan sejak tahun 2009, implementasi UU itu hingga saat ini belum bisa diterapkan secara utuh. Freeport bahkan berpandangan UU itu tidak berlaku untuk dirinya yang izinnya dalam bentuk Kontrak Karya (KK). Bahkan berdasarkan surat teguran Dirjen Minerba kepada Freeport terungkap bahwa meskipun pemerintah dan Freeport telah membahas amandemen naskah KK sejak Oktober 2014 sampai Maret 2015, Freport baru menyetujui 2 pasal secara utuh dari 20 pasal yang dibahas.5

Meskipun demikian, pemerintah tetap bersikap lunak kepada Freeport. Sejumlah peraturan turunan dari UU Minerba, baik dalam bentuk Peraturan pemerintah maupun Peraturan Menteri (Permen) berkali-kali direvesi hanya untuk mengakomodasi kepentingan Freeport dan perusahaan pertambangan raksasa lainnya seperti Newmont. Pada Permen ESDM No.7/2012 tentang Peningkatan Nilai Tambah Mineral disebutkan bahwa perusaahaan pertambangan wajib melakukan pengolahan dan pemurnian selambat-lambatnya 6 Mei 2012. Aturan ini kemudian dicabut atas keputusan MA. Selanjutnya, pemerintah menerbitkan Permen ESDM No. 11 yang memperpanjang batas waktu kewajiban pengolahan dan pemurnian hingga Januari 2014. Setelah itu pemerintah kembali merevisi aturannya dengan menerbitkan Permen ESDM No.1/2014 yang mengizinkan ekspor tembaga dengan kadar konsentrat 15%, berubah dari aturan sebelumnya yang mensyaratkan minimal 99% kadar pemurnian-nya. Permen itu juga memberikan kelonggaran kepada perusahaan tambang untuk mengekspor konsentrat hingga 2017. Perubahan demi perubahan dilakukan untuk mengakomodasi Freeport dan Newmont yang kadar konsentrat-nya baru 30-40% serta belum memiliki progres dalam pembangunan smelter. Meski selalu mengancam melakukan penghentian ekspor karena tidak dianggap tidak serius membangun smelter, setiap kali izin ekspor perusahaan itu habis, pemerintah tetap melakukan perpanjangan izin ekspor.

Dalam pembayaran royalti, PP No. 9/2012 tentang Penerimaan Negara Bukan pajak telah menetapkan bahwa royalti tembaga sebesar 4%, emas 3,75%, dan perak 3,25%. Namun, Freeport hanya bersedia membayar royalti 1% untuk emas dan 3,5% untuk tembaga. Baru pada Juli 2014, setelah negosiasi yang cukup alot, Freeport bersedia mematuhi aturan itu.

Saat ini, Freeport juga sedang berusaha untuk memperpanjang kontraknya yang akan berakhir tahun 2021. Padahal jika mengacu pada PP Nomor 77/ 2014, Freeport baru bisa mengajukan perpanjangan tahun 2019. Namun, bagi Freeport, tenggang waktu itu tidak memberikan investasi. Berbagai lobi dilakukan perusahaan itu. James R. Moffett, Chairman Freeport-McMoran, bahkan secara diam-diam menemui Jokowi. Akhirnya, Menteri ESDM mengeluarkan surat yang memberikan ‘lampu hijau’ perpanjangan kontrak dengan PT Freeport Indonesia

CACATNYA EKONOMI KAPITALISME DAN KEUNGGULAN EKONOMI ISLAM

Oleh : Zahra Riyanti


Nilai tukar Rupiah pada 18 agustus kemarin menyentuh angka 14.600 per dolar AS, ini telah merosot kesekian kalinya dalam sejarah jatuh bangunnya kurs Rupiah di Indonesia,  walaupun pergerakan kurs dalam keadaan fluktuasi dua angka tetap saja tidak mengubah kondisi krisis saat ini. Respon pemerintah pun bervariasi, berdasarkan penilaian yg temporer konon 14.600 ini belum mendekati kategori krisis  dalam kacamata Ekonomi mengingat tidak ada konsensus pasti untuk menilai berapa persen pelemahan suatu mata uang yang terkategori krisis. 
Melemahnya Rupiah ini kemudian sangat berdampak besar pada 3 hal:
Pertama, adanya tekanan produsen (Perusahaan) dalam negeri terutama yang mengandalkan impor bahan baku dimana mereka terpaksa menyesuaikan produk produk yang ada, maka cara efektifnya ialah meningkatkan harga atau terjadinya pengurangan kapasitas usaha yg mereka miliki, pada akhirnya berdampak pada pengurangan jumlah tenaga kerja yang bisa saja berujung pada PHK massal
Kedua, terjadi penurunan daya beli masyarakat akibat harga harga komoditas melambung tinggi karena inflasi (Imported Inflasion) , hal ini pun menimpa pada  meningkatnya jumlah pengangguran dan mentackle sektor lain yang tak berhubungan langsung dengan perdagangan luar negeri kedalam masalah yang sama. 
Ketiga, bertambahnya biaya pembayaran utang luar negeri akibat melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar, menurut laporan BPK (Badan pemeriksa Keuangan) rasio utang pemerintah Indonesia pada 2016-2017 meningkat masing masing sebesar 28, 3% dan 29, 39% terhadap PDB, selain itu nilai pokok utang Indonesia tanpa memperhitungakan unamortized diacount dan unamortized premium capaiannya sebesar Rp. 3.993 trilliun yaitu terdiri dari utang luar negeri sebesar Rp. 2.402 trilliun atau 60% dan utang dalam negeri sebesar Rp 1.591 atau 40%. Kerugian inipun menimpa sejumlah BUMN dan perusahan-perusahan Swasta dalam negeri yang juga mengandalkan utang luar negeri seperti yang di derita PLN pada 2015 lalu yang kerugianya mencapai Rp. 16, 9 trilliun yang sampai pada hari inipun masih terus terjadi. 
Bila di simak persoalan diatas tentunya faktor pemicu yang melatarbelakangi terjadinya depresi Rupiah itu sendiri adalah: 
Pertama, terjadinya perlambatan ekonomi China dan Uni Eropa yg merupakan negara tujuan ekspor Indonesia dan merosotnya harga harga barang, impactnya penerimaan devisa Indonesia yang berasal dari ekspor menurun sehingga menghantam neraca transaksi perdagangan.
Kedua, adanya kebijakan china untuk mendevaluasi yuan terhadap dolar akibat anjloknya bursa saham china dan china pun berencana melakukan penaikan suku bunga (The Fed) inipun sangat memberi dampak besar terhadap pelemahan nilai tukar rupiah. pemerintah pun kemudian mencoba untuk meredakan situasi kacau tersebut dengan membuat beberapa paket kebijakannya seperti:
1). Mendorong daya saing industri nasional melalui deregulasi, debirokrasi, penegakkan hukum dan kepastian usaha 
2). Mempercepat proyek strategis nasional untuk menghilangkan hambatan, sumbatan dalam pelaksanaan dan penyelesaian proyek strategis nasional. 
3). Meningkatkan investasi disektor properti
Langkah diatas terhitung sejak krisis pd  2015 lalu. yang kalau kita objektif menilai seberapa besar perubahan yang signifikan dengan solusi yang ditawarkan tersebut? Ternyata tidak ada sama sekali Karna apa yang ditawarkan pemerintah belum sampai menyentuh pada akar persoalan yang sesungguhnya. Karna bila kita uraikan masalah krisis saat ini akan kita dapati akar masalahnya, yaitu sistem ekonominya yang berbasis riba dan mata uang yang berstandar pada fiat money (Uang kertas). 
Oleh karna itu bagaimanakah Islam mengatasi masalah ini? Yang pertama Yang harus ditempuh oleh sebuah negara yang dilanda krisis adalah merevolusi sistem moneternya. Kuat lemahnya Mata uang sebuah negara sangat bergantung pada sistem ekonominya, olehnya itu saat ini karena kapitalisme yang eksis sebagai basis sistem ekonomi negara negara demokrasi maka fiat money (uang kertas) yang menjadi mata uang sahnya yang amat sangat sarat krisis dan inflasi. 
Kelemahan fiat money ini sendiri dilihat dari nilai instrinsiknya (intrinstic value) yang tidak memiliki nyawa 'uang' sedikitpun yang melekat padanya karena bila kita kembali pada realitas uang kertas itu sendiri nilainya dapat berubah kapan saja tergantung pokitik ekonomi negara tersebut. Sebab uang kertas dapat di jadikan alat tukar yang sah ditengah tengah masyarakat karna adanya stemple /keakuan yg terundang-undangkan dari pemerintah atau otoritas moneter suatu negara untuk melaglitas nilai nominal uang kertas tersebut, pada akhirnya bila negara tersebut mengalami kekacauan dibidang politik dan ekonominya maka akan sangat signifikan mempengaruhi mata uang sekaligus perekonomianya. 
Oleh karna itu Islam kemudian datang memberikan solusi atas hal ini dengan mengadopsi emas dan perak sebagai mata uang sah, baik antar manusia maupun antar negara. Dan ini tidak diperuntukan pada afktivitas yang lain seperti menjadikannya komoditi yang diperdagangkan secara bebas yang bisa saja dimanfaatkan oleh sebagian pihak yang tidak diketahui, sebagaimana kapitalisme hari ini
Emas secara fisik memiliki dua nilai yang menjadikannya stabil dan anti depresi yakni nilai intrinsiknya berupa murni logam mulia (emas dan perak) yang sampai hari tidak adansatupun manusia, peradaban dan negara yang tidak menghargai tingginya nilai emas tersebut dan nilai ekstrinsik yaitu nilai nominal yang ditentukan oleh regulasi negara Khilafah yang tegas dan ketar. Inilah kekuatan sistem moneter Islam yang eksis selama berabad abad lamanya, kuat, tahan banting dan preventif dalam menyelesaikan persoalam ekonomi dan perdagang dalam dan luar negerinya. 
Walhasil sistem moneter kapitalisme tidak cukup diganti begitu saja tanpa melalui perubahan sistem yang diterapkan yakni kapitalisme-sekularisme sebagai sistem politiknya dewasa ini karena inilah sebab musababnya. Perubahan ini kemudian haruslah menuju pada sistem Islam yang politik,ekonomi dll, bersandar pada Al-Qur'an dan As-Sunnah, 2 pegangan ini tidak hanya jadi sandaran perekonomiannya namun juga menjadi aturan baku disemua sektor kehidupan. 
Berikutnya fakta kerusakan ekonomi kapitalisme yang lain adalah adanya pengadopsian pasar saham yang spekulatif, liberalisasi perdagangan dan investasi serta mengandalkan riba dalam setiap kegiatan ekonominya. Dimana bila kita uraikan lagi ketiga hal diatas kita akan jumpai kecacatan yang amat nyata. 
 pasar saham yang menjadi salah satu sumber modal PT (Perseroan Terbatas), perdagangan dipasar ini selain dipengaruhi oleh faktor-faktor fundamental juga dipengaruhi oleh hal hal yang bersifat spekulatif bahkan sangat dominan. 
Dengan adanya liberalisasi investasi, para investor dapat menyerbu dengan mudah pasar saham satu negara dan  sebaliknya mereka dapat membuat indeks saham negara tersebut anjlok hanya dengan isu isu yang masih kabur kebenarannya, misalnya isu naik tidaknya kenaikan suku bunga (The fed) telah membuat indeks Harga Saham Ganungan (IHSG) mengalami fluktuasi tajam sejak 2014-2015 lalu lucunya Rupiah pun tak dapat menghindari terjadinya fluktuasi tersebut. 
Ini tentunya tidak pernah akan terjadi dalam sistem Islam, pasalnya model akod perusahaan yang mengeluarkan saham yang diperdagangkan dipasar modal yakni perseroan terbatas (PT)  ini haram dalam Islam. Walhasil, saham yang diperdagangkan tersebut pun jadi haram. Keharamnya terletak pada kontrak (Akod) pendiriannya yang bertentangan dengan konsep syirkah (kerjasama bisnis) dalam Islam yakni mengharuskan keterlibatan pihak yang menjadi pengelola bisnis dalam akod pendiriannya. Akad pembentukan PT sama sekali tidak melibatkan pihak yang menjadi pengelola. Karna Akad pembentukan PT sama sekali tidak melibatkan pihak yang menjadi pengelola, maka, yang berakod hanya para pemilik modal saja sementara pihak yang mengelola bisnis tersebut tidak termasuk dalam akad ini meski disebutkan dalam catatan akte perusahaan, adapun pemberian keuntungan kepada pengelola hanya dengan  memberi upah saja bukan dengan bagi untung antar mereka baik pemodal maupun pengelola. Inilah fakta pasar saham dalam sistem kapitalisme yang amat sangat bertentangan dengan Islam. 
Sisi lain juga, liberalisasi perdagangan dan investasi yang membuat sistem kapitalisme ini makin terpuruk. dimana negara membuka kran investasi besar besaran bagi negara negara industri yang memiliki produk berdaya saing global yang dianggap bergengsi dan sangat siap mengisi kekosongan produk dalam negeri yang dirasa belum memiliki level. Misalnya indonesia akibat liberalisasi perdagangan ini produk produk asing membanjiri hampir setiap lini pasar mulai dari produk kebutuhan pokok sampai yang tersier semuanya mengandalkan produk luar yang notabene adalah impor, efek dari semua itu memberikan hantaman keras terhadap pelaku produsen dalam negeri dalam arena pasar yang tak manusiawi ala kapitalisme ini, yang mana mereka terpaksa gulung tikar dan tak bisa menghasilkan kreatifitas produk lokal serta minimnya pendapatan yang memadai. Impactnya lanjutan karna Pasar Indonesia hanya mengandalkan impor membuat rupiah terus melorot dan tak pernah stabil lagi sejak krisis 1998 silam. Perilaku Liberalisasi/swastanisasi perdagangan dan investasi jelas haram dalam Islam karna islam melarang adanya pengelolaan sepihak oleh individu dan kelompok tertentu karna akan mudah terproyeksi secara jahat dan terspekulasi oleh pihak pihak pengelola yang notabene berujung pada keuntungan sepihak dan merugikan masyarakat. 
Oleh karna itu sudah saatnya kita bangkit mengubah keadaan yang rusak ini dengan Islam karena hanya Islam yang menjadi problem solving atas masalah masalah yang dihadapi oleh manusia atau bahkan peradabannya termasuk dalam bidang ekonominya. Penerapan syariat Islam dalam perekonomian merupakan suatu kewajiban seperti halnya kewajiban setiap Muslim untuk melaksanakan shalat, puasa, zakat dan haji. Sehingga, tidak patut bagi kita dalam kegiatan ekonomi mengabaikan syariat Is­lam dengan mengambil, melaksanakan dan mengagungkan sistem ekonomi lain yang berlandaskan hukum kufur.
Islam telah terbukti selama 13 abad mampu mengantar kan umat manusia dari berbagai etnis, suku, bahasa, bangsa, warna kulit bahkan agama kepada kebaikan tiada tara, kehidupan yang layak makmur, sejahtera dan adil. Dan bilamana seorang menghendaki kehidupan selain Islam maka sekali kali tidak ada ridho Allah disisinya sebagaimana 
"....pada hari ini telah Ku-sempurnakan bagi kamu agamamu dan Kusempurnakan bagi kamu nikmat-Ku dan Aku ridhoi Islam itu sebagai agama kamu" (QS Al-Maidah:3) wallahu 'alam bishawwab
x

DEMAM K-POP DAN KRISIS IDENTITAS GENERASI

Oleh : Zahra Riyanti

Korean wafe sejak 15 tahun terkahir telah mengguncang pasar musik dunia beserta budaya inheren didalamnya. Budaya permisif, liberal dan individualistik yang begitu kental terasa. Indonesia pun tidak luput dari 'virus' ini, Fakta berbicara  beberapa kawasan asia termasuk Indonesia menjadi basis konsumen tertinggi dalam pembelian pernak pernik K-POP baik lightstik, album, poster, majalah, tiket konser dll di sepanjang dekade itu. Hal ini tidaklah lain dan tidaklah bukan adalah bagian dari keberhasilan strategi barat dalam menggempur akidah dan budaya kaum muslimin khususnya generasi mudanya dengan menggunakan Korea Selatan sebagai satelitnya.

Di beberapa aspek Indonesia mirip Korsel. Reruntuhan abu Perang Korea (1950-1953) melahirkan generasi meritokratik (tokoh-tokoh berjasa besar) yang sangat menentukan pembangunan Korea selatan, hingga menjadi negara maju, seperti saat ini.

Daniel Tudor, koresponden untuk majalah The Economist, menulis buku menarik tentang Korea Selatan berjudul Korea, The Impossible Country (2012). Buku ini bercerita tentang kisah Korsel dari negeri yang dibelit kemiskinan dan di bawah kekuasaan tangan diktator menjelma menjadi negeri modern dan makmur; negeri yang enerjik. Ibarat metamorfosa, “from nothing to something”. Korsel, menurut Tudor, memiliki 2 mukjizat yang telah menjadikan ”Negeri Ginseng” itu seperti sekarang ini.

Pertama,”Mukjizat Sungai Han”. Han adalah sungai besar yang membelah Ibukota Korsel, Seoul dan merupakan sungai terpanjang keempat (494 kilometer) setelah Sungai Amnok, Duman, dan Nakdong. Istilah ”Mukjizat Sungai Han” digunakan untuk menggambarkan pertumbuhan ekonomi Korsel setelah Perang Korea 1953 yang demikian cepat: dari sebuah negara yang terpuruk karena perang, terbelakang secara ekonomi, pengangguran menumpuk, serta infrastruktur hancur, menjadi negara modern dan makmur. Kini, perekonomian Korsel didominasi para chaebol, konglomerat keluarga. Di antaranya adalah Hyundai, Daewoo, Samsung, LG, Hanjin, SK Industrie, dan Kumho-Asiana. Produknya dapat dengan mudah kita temui di Indonesia.

Mukjizat kedua adalah transformasi politik dari negara diktator militer menjadi negara demokratis.

Di kawasan Asia, ada negara-negara lain yang sukses secara ekonomi, tetapi tidak secara politik seperti Korsel. Misalnya, Singapura dan China. Kedua negara itu maju secara ekonomi, tetapi secara politik, menurut istilah Tudor, masih di bawah sistem politik otoritarian.

Korsel kini, physically, memang sudah maju dan modern. Namun, apakah sudah sesuai dengan cita-cita para bapak-pendiri bangsanya? Tentu belum, Salah seorang pejuang kemerdekaan Korsel, Kim Gu (1876-1949), pernah mengatakan, ”Saya tidak menginginkan bangsa kami menjadi bangsa yang paling kuat dan kaya di dunia... Yang kami inginkan hanyalah menjadi ’bangsa terindah di dunia’ yang memberikan kebahagiaan bagi bangsa kita sendiri dan bangsa-bangsa lain.” (Trias Kuncahyono: 2014)

Cita-cita Kim Gu hingga kini belum sepenuhnya terwujud, bahkan jauh dari fakta yang ada Sebab, Korsel, sebagaimana hari ini, dicekoki oleh hegemoni Amerika Serikat (AS) melalui para kompradornya yang sibuk saling sikut memburu kekuasaan. Kisruh pemakzulan atas Presiden Park Geun Hye, beberapa waktu lalu, menegaskan hal tersebut.

Disisi lain, saat ini setidaknya ada 54.000 tentara AS yang ditempatkan di Korsel guna membantu pertahanan. Akibat ketergantungan ini, Korsel praktis secara politik, ekonomi bahkan militer disetir oleh AS.

Dari sini tampak bahwa korsel sedang berada dibawah bayang bayang tekanan yang tak dapat dihindari membuat mereka dihadapkan oleh laju bencana clash civilization (Benturan peradaban) yang sebagaimana kita tahu budaya mereka begitu kental akan hal hal tradisionalis dan origins kini berubah wujud akibat infiltrasi budaya hedonis-materialistiknya Amerika.

Kembali pada platform K-Pop ada beberapa hal yang harus diamati dalam konten kontennya seperti MV dan albumnya tampak upaya penyusupan teori konspirasi dajjal, oleh kaum luciferian atau penyembah Setan seperti pada artis papan atasnya BTS, WANNA ONE, EXO, BLACKPINK, REDVELVET, BIGBANG dll  semuanya telah di design menjadi pengikut dajjal bahkan diagenkan oleh agensi yang menaungi mereka. Membawa simbol, lambang, tarian serta mantra yang begitu membius seperti bintang David (Pentagram), segitiga piramida, one eye (mata satu) dan tarian memanggil arwah jahat dan lain sebagainya. Walhasil ini bisa mempengaruhi alam bawa sadar kita (efek Sihir Tak kasat mata)  yang tanpa disadari kita bisa terbawa oleh keindahan, ketampanan, kecantikan dan kemegahan palsu yang ditawarkan mereka. muaranya anak anak muda kita bisa begitu menggila dengan semua itu.

Hal ini menunjukan bahwa sedikit lagi Indonesia akan sama menyusul kondisi korsel ini. Dilihat dari beberapa aspek ringkasnya seperti hal hal diatas yaitu kebebasan berekpsresi yang kian dipertuhankan, permisif atau budaya hedon ( hura hura, kongko kongko dll) dan materialistik. Yang tercermin dari banyaknya anak anak muda kita yang aktif dan fanatik memburu hal hal per K-Popan inindaripada belajar, atau mengkaji Islam. Lebih senang hadir di event event idolanya dari Konsernya, fanmeeting, fansign, showcase dll ketimbang ngumpul bareng teman teman yang soleh solehah belajar Al-Qur'an dan Al-Hadits

Sehingga belakangan reputasi Republik ini kian hancur dengan munculnya beragam masalah seperti, pemerkosahan, pembunuhan, seks bebas, drugs, menjamurnya KKN (Korupsi  dikalangan penguasa dll, akibat dari absennya generasi muda dipanggung politik untuk turut andil menyelesaikan persoalan ini karena telah terpalingkan sama Oppa oppa 'dajjal' Idolanya itu. Padahal mereka adalah amanah perdaban sebagai problem solver disetiap masa, ditangan mereka wajah dunia ini akan menjadi seperti apa. Oleh karna itu bila hal ini tidak segera diselesaikan maka kehancuran peradaban kita akan segera tiba. Dan patut untuk direnungi bahwa demam k-pop ini telah menciptakan gelombang krisis moral dan ahlak generasi diseluruh negeri negeri Islam wabil khusus Indonesia sehingga harus ada solusi tuntas untuk mengakhiri persoalan ini dan solusi itu tidaklah lain dan tidaklah bukan adalah Islam, yang telah dijamin Allah bisa menyudahi semua permasalahan manusia termasuk krisis identitas generasi.